Peri Rucci terbangun, saat matahari menerpa wajahnya lewat jendela kamar. Bergeges Rucci bangkit dari tempat tidur mungilnya. Suara burung terdengar dari pohon di depann rumahnya.
“Ah, tidurku nyenyak sekali!” seru Rucci sambil membuka jendela. Seketika sinar matahari masuk melalui jendela rumah pohonnya.
Setalah bersenam sejenak Rucci bergegas mandi, lalu sarapan.
“Wah, ternyata persediaan buah ceri hampir habis,” seru Peri Rucci saat membuka lemari makanannya. “Sebaiknya aku segera mencari Ceri, apalagi hari sangat cerah.”
Setelah selesai sarapan, Peri Rucci bergegas mengambil keranjang rotannya dan segera memakai sepatunya. Sambil bernyanyi riang, Rucci keluar rumah. Tidak lupa ia mengunci pintu.
“Hai Rucci, kamu mau ke mana?” tanya Peri Melli tetangga Rucci.
“Aku mau ke hutan mencari buah Ceri. Kamu mau ikut, Melli?” tanya Rucci.
“Boleh, aku juga ingin mencari buah Ceri. Apalagi sebentar lagi musim hujan.”
Peri Rucci dan Peri Melli terbang bersama-sama menuju hujan di ujung negeri peri Rancamanca. Saat baru, terbang mereka berpapasan dengan Bu Cella peri. Bu Cella membawa keranjang besar berisi alat-alat rumah tangga. Bu Cella memang berjualan alat-alat rumah tangga.
“Halo, Bu Cella,” sapa Rucci ramah.
“Halo Rucci, Kalian mau ke mana?”
“Aku dan Melli mau ke hutan mencari buah ceri, Bu Cella,” jawab Rucci.
“Wah, kebetulan sekali. Berarti kalian melewati rumah Bu Relia ya? Boleh minta tolong sampaikan pesanan teko Bu Relia.”
“Tentu saja bisa, Bu Cella,” jawab Peri Rucci.
Bu Cella senang sekali. “Terima kasih banyak, Rucci! Dengan begitu, aku tidak perlu memutar jalan lebih jauh.
“Sama-sama, Bu Cella,” jawab Peri Rucci sambil memasukkan teko tanah liat ke dalam keranjang rotannya. Peri Rucci dan peri Melli lalu melanjutkan perjalanan.
Baru terbang sebentar Rucci dan Melli bertemu Nenek Amara peri. Nenek Amara peri sedang duduk di bawah sebuah pohon.
“Nenek Amara mau ke mana?” tanya Rucci
“Aku mau ke ruamah Bu Renny mengambil jahitan bajuku. Tapi aku kelelahan dan ingin beristirahat sebentar. Mungkin Sayapku tak kuat lagi terbang jauh dan lama,” keluh Nenek Amara.
Peri Rucci mengangguk mengerti. Matahari bersinar sangat terik. Apalagi rumah Bu Renny peri masih jauh.
“Bagaimana kalau aku mengambilkan jahitan baju Nenek Amara. Nanti biar aku mengantarkan ke rumah Nenek,” Rucci menawarkan diri.
Wajah nenek Amara langsung ceria. “Benarkah? Terima kasih Rucci. Aku akan menunggumu nanti sore.”
Rucci mengajak Melli terbang menuju rumah Bu Retia mengantar teko, lalu menuju rumah Bu Renny mengambil baju Nenek Amara.
Kedua peri itu melanjutkan perjalanan. Hari semakin siang. Mereka mempercepat terbang menuju hutan. Di jalan menanjak, mereka bertemu Peri Sendi. Ia menangis tersedu-sedu. Di sampingnya terbaring Dudu, burung layang miliknya. Peri Rucci dan Peri Melli segera menghampiri Peri Sendi.
“Kenapa kamu menangis Sendi?” tanya Rucci.
“Tadi aku terlalu berani terbang bersama Dudu menerobos semak. Sayap Dudu terkena ranting dan luka. Aku harus segera ke rumah Bu Welly untuk mengobati sayap Dudu.”
“Ah, kasihan sekali. Kami akan mengantarmu ke rumah Bu Welly, Sendi,” kata Rucci.
“Rucci, kita harus bergegas ke hutan mencari buah Cerri,” bisik Peri Melli ke telinga Peri Rucci.
“Tapi kita harus membantu Sendi, Melli,” Peri Rucci sedikit mengacuhkan ucapan melli. Melli tampak sebal.
Peri Rucci dan Peri Melli mengantar Peri Sendi ke rumah Bu Welly. Setelah itu mereka terbang menuju hutan.
“Ya ampun, Rucci. Kenapa kamu mau membantu semua peri” Akhirnya Melli tidak tahan untuk tidak protes pada Rucci.
“Memangnya kenapa? Bukankah menolong itu bagus?”
“Iya sih, tapi kita akan kehabisan waktu. Bisa-bisa kita bermalam di hutan.”
Peri Rucci ingin menjelaskan sesuatu, tapi Peri Melli terlihat sudah marah. Ia terbang cepat meninggalkan Peri Rucci
Peri Rucci dan Peri Melli sampai di hutan saat hari menjelang sore. Tentu saja, mereka tidak punya cukup waktu untuk mencari cerri lebih banyak.
“Uh, hanya sedikit ceri yang kita dapat,” keluh Peri Melli.
“Maafkan aku ya, Melli.”
“Iya, ini salahmu. Coba kamu tidak mengantarkan barang-barang peri lain. Kita tidak akan kemalaman di jalan.”
Rucci diam saja. Ini memang salahnya. Mereka bergegas pulang, karena matahari hampir tenggelam.
“Hei kalian mau pulang,” sapa Peri Sendi. Rupanya sayap Dudu sudah sembuh.
“Iya, Sendi,” jawab Rucci.
“Ayo naik, kalian akan aku antar sampai rumah,” ajak Sendi
“Tapi, kami harus ke rumah Nenek Amara mengantar jahitan baju.”
“Tidak apa-apa, tadi kalian sudah menolongku.”
Peri Rucci dan Peri Melli segera duduk di punggung Dudu Sebentar saja mereka sudah sampai di rumah Nenek Amara. Nenek Amara dengan senang hati menyambut mereka.
“Ayo, Masuk. Nenek sedang memanggang bolu cokelat,” ajak Nenek Amara sambil membuka pintu lebar.
Peri Rucci dan Peri Melli masuk. Aroma kue langsung tersium. Harum sekali. Peri Rucci dan Peri Melli langsung merasa lapar.
“Terima kasih kalian mengantar jahitanku. Ini bolu panggang cokelat untuk kalian,”
“Wah, benarkah? Terima kasih, Nek!”
Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Saat melewati rumah Bu Cella, mereka berhenti.
“Hei, tunggu. Saya mau mengucapkan terima kasih. Saya tidak perlu terbang jauh.”
“Sama-sama, Bu Cella.”
“Ini saya beri sekeranjang ceri Kemarin saya memetik Ceri sangat banyak.”
“Wah, ini untuk kami. Terima kasih Bu Cella,” kata Rucci.
“Wah, kamu sudah mempunyai cerri dan roti panggang. Sungguh beruntung,” kata Peri Melli sesampai di rumah. “Kita juga tidak lelah karena diantar Dudu.”
“Kamu tidak usah khawatir. Aku akan membagi padamu kok,”
Melli tersipu malu. Kini ia tahu, indahnya berbagi.
Bambang Irwanto
![]() |
| Dimuat di Majalah Bobo |
“Ah, tidurku nyenyak sekali!” seru Rucci sambil membuka jendela. Seketika sinar matahari masuk melalui jendela rumah pohonnya.
Setalah bersenam sejenak Rucci bergegas mandi, lalu sarapan.
“Wah, ternyata persediaan buah ceri hampir habis,” seru Peri Rucci saat membuka lemari makanannya. “Sebaiknya aku segera mencari Ceri, apalagi hari sangat cerah.”
Setelah selesai sarapan, Peri Rucci bergegas mengambil keranjang rotannya dan segera memakai sepatunya. Sambil bernyanyi riang, Rucci keluar rumah. Tidak lupa ia mengunci pintu.
“Hai Rucci, kamu mau ke mana?” tanya Peri Melli tetangga Rucci.
“Aku mau ke hutan mencari buah Ceri. Kamu mau ikut, Melli?” tanya Rucci.
“Boleh, aku juga ingin mencari buah Ceri. Apalagi sebentar lagi musim hujan.”
Peri Rucci dan Peri Melli terbang bersama-sama menuju hujan di ujung negeri peri Rancamanca. Saat baru, terbang mereka berpapasan dengan Bu Cella peri. Bu Cella membawa keranjang besar berisi alat-alat rumah tangga. Bu Cella memang berjualan alat-alat rumah tangga.
“Halo, Bu Cella,” sapa Rucci ramah.
“Halo Rucci, Kalian mau ke mana?”
“Aku dan Melli mau ke hutan mencari buah ceri, Bu Cella,” jawab Rucci.
“Wah, kebetulan sekali. Berarti kalian melewati rumah Bu Relia ya? Boleh minta tolong sampaikan pesanan teko Bu Relia.”
“Tentu saja bisa, Bu Cella,” jawab Peri Rucci.
Bu Cella senang sekali. “Terima kasih banyak, Rucci! Dengan begitu, aku tidak perlu memutar jalan lebih jauh.
“Sama-sama, Bu Cella,” jawab Peri Rucci sambil memasukkan teko tanah liat ke dalam keranjang rotannya. Peri Rucci dan peri Melli lalu melanjutkan perjalanan.
Baru terbang sebentar Rucci dan Melli bertemu Nenek Amara peri. Nenek Amara peri sedang duduk di bawah sebuah pohon.
“Nenek Amara mau ke mana?” tanya Rucci
“Aku mau ke ruamah Bu Renny mengambil jahitan bajuku. Tapi aku kelelahan dan ingin beristirahat sebentar. Mungkin Sayapku tak kuat lagi terbang jauh dan lama,” keluh Nenek Amara.
Peri Rucci mengangguk mengerti. Matahari bersinar sangat terik. Apalagi rumah Bu Renny peri masih jauh.
“Bagaimana kalau aku mengambilkan jahitan baju Nenek Amara. Nanti biar aku mengantarkan ke rumah Nenek,” Rucci menawarkan diri.
Wajah nenek Amara langsung ceria. “Benarkah? Terima kasih Rucci. Aku akan menunggumu nanti sore.”
Rucci mengajak Melli terbang menuju rumah Bu Retia mengantar teko, lalu menuju rumah Bu Renny mengambil baju Nenek Amara.
Kedua peri itu melanjutkan perjalanan. Hari semakin siang. Mereka mempercepat terbang menuju hutan. Di jalan menanjak, mereka bertemu Peri Sendi. Ia menangis tersedu-sedu. Di sampingnya terbaring Dudu, burung layang miliknya. Peri Rucci dan Peri Melli segera menghampiri Peri Sendi.
“Kenapa kamu menangis Sendi?” tanya Rucci.
“Tadi aku terlalu berani terbang bersama Dudu menerobos semak. Sayap Dudu terkena ranting dan luka. Aku harus segera ke rumah Bu Welly untuk mengobati sayap Dudu.”
“Ah, kasihan sekali. Kami akan mengantarmu ke rumah Bu Welly, Sendi,” kata Rucci.
“Rucci, kita harus bergegas ke hutan mencari buah Cerri,” bisik Peri Melli ke telinga Peri Rucci.
“Tapi kita harus membantu Sendi, Melli,” Peri Rucci sedikit mengacuhkan ucapan melli. Melli tampak sebal.
Peri Rucci dan Peri Melli mengantar Peri Sendi ke rumah Bu Welly. Setelah itu mereka terbang menuju hutan.
“Ya ampun, Rucci. Kenapa kamu mau membantu semua peri” Akhirnya Melli tidak tahan untuk tidak protes pada Rucci.
“Memangnya kenapa? Bukankah menolong itu bagus?”
“Iya sih, tapi kita akan kehabisan waktu. Bisa-bisa kita bermalam di hutan.”
Peri Rucci ingin menjelaskan sesuatu, tapi Peri Melli terlihat sudah marah. Ia terbang cepat meninggalkan Peri Rucci
Peri Rucci dan Peri Melli sampai di hutan saat hari menjelang sore. Tentu saja, mereka tidak punya cukup waktu untuk mencari cerri lebih banyak.
“Uh, hanya sedikit ceri yang kita dapat,” keluh Peri Melli.
“Maafkan aku ya, Melli.”
“Iya, ini salahmu. Coba kamu tidak mengantarkan barang-barang peri lain. Kita tidak akan kemalaman di jalan.”
Rucci diam saja. Ini memang salahnya. Mereka bergegas pulang, karena matahari hampir tenggelam.
“Hei kalian mau pulang,” sapa Peri Sendi. Rupanya sayap Dudu sudah sembuh.
“Iya, Sendi,” jawab Rucci.
“Ayo naik, kalian akan aku antar sampai rumah,” ajak Sendi
“Tapi, kami harus ke rumah Nenek Amara mengantar jahitan baju.”
“Tidak apa-apa, tadi kalian sudah menolongku.”
Peri Rucci dan Peri Melli segera duduk di punggung Dudu Sebentar saja mereka sudah sampai di rumah Nenek Amara. Nenek Amara dengan senang hati menyambut mereka.
“Ayo, Masuk. Nenek sedang memanggang bolu cokelat,” ajak Nenek Amara sambil membuka pintu lebar.
Peri Rucci dan Peri Melli masuk. Aroma kue langsung tersium. Harum sekali. Peri Rucci dan Peri Melli langsung merasa lapar.
“Terima kasih kalian mengantar jahitanku. Ini bolu panggang cokelat untuk kalian,”
“Wah, benarkah? Terima kasih, Nek!”
Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Saat melewati rumah Bu Cella, mereka berhenti.
“Hei, tunggu. Saya mau mengucapkan terima kasih. Saya tidak perlu terbang jauh.”
“Sama-sama, Bu Cella.”
“Ini saya beri sekeranjang ceri Kemarin saya memetik Ceri sangat banyak.”
“Wah, ini untuk kami. Terima kasih Bu Cella,” kata Rucci.
“Wah, kamu sudah mempunyai cerri dan roti panggang. Sungguh beruntung,” kata Peri Melli sesampai di rumah. “Kita juga tidak lelah karena diantar Dudu.”
“Kamu tidak usah khawatir. Aku akan membagi padamu kok,”
Melli tersipu malu. Kini ia tahu, indahnya berbagi.
Bambang Irwanto

Bapaaaakk.. izin yaa aku bookmark kategori blog bapak yang inii, buat bahan bacaan anak saya nihh sebelom tiduuuurr, hihihi.
ReplyDeleteCeritanya sederhana, tapi menginspirasi banget pak. Mengingatkan kita bahwa yang namanya berbagi dan membantu sesama itu tidak ada kata ruginya. Pastilah, suatu saat nanti semua kebaikan itu akan kembali pada diri kita sendiri.
Sepotong pita milik bu rini
nampak gemulai dan penuh berseri
Apa yang kita tanam hari ini
kelak akan dituai di kemudian hari
Fiksi tentang para peri ini menyiratkan hal penting, saling berbagi itu baik ya, lebih bermanfaat buat orang banyak dan pastinya ke diri sendiri juga.
ReplyDeleteBisa disebut sih ini gak hanya bagus dibaca oleh anak-anak, yang udah dewasa pun juga, sebagai pengingat diri
Nostalgia banget baca cerita seperti ini. Ingat masa kecil baca majalah bobo. Di mana segala sesuatu masih terasa ideal. Hehehe...
ReplyDeleteDi dunia nyata, membantu orang tidak selalu berakhir baik. Banyak juga orang yang aji mumpung. Meskipun begitu, nggak boleh menyurutkan niat kita untuk membantu orang lain dan terus berbuat baik.
Baguuuus mas ceritanya. Ini dimuat kapan mas? Baru2 ini atau tulisan lama? Kangeeeen banget baca cerita2 anak di bobo. Makanya dulu aku langganan lama. Saking sukanya baca semua cerpen, cerbung dan cergam 😄.
ReplyDeleteCerita anak begini skr aku ceritakan ulang ke anak2ku sendiri. Pengantar tidur lah. Buku mas Bambang yg aku beli , itu akh minta anak2 utk baca 1 bab saja tiap Sabtu Minggu, lalu ceritakan isinya.
Peri Rucci sangat memperhatikan kesehatan ya. Buktinya dia senam di pagi hari. Peri Rucci juga baik hati karena selalu membantu teman-temannya ketika butuh bantuan seperti nenek amara dan sendi (maria tanjung sari)
ReplyDeleteAsli keren banget ini ceritanya, beneran bagus buat dibaca sama anak-anak, ada nilai-nilai kebaikan yang di show dengan sangat smooth di cerita ini. Rucci tipe peri positif vibes banget era kini sih ya.
ReplyDeleteSemangat berkarya semoga bisa terus konsisten nulis cerita anak ya. Good luck, enjoy baca sampai finish ini sih.
Pesan moralnya terasa humanis banget ya Pak Bams.... Diriku syuka hehehehe... kebaikan yang kita tanam pasti akan berbuah manis.
ReplyDeleteBuktinya, Rucci malah dapat tumpangan burung Dudu, bolu cokelat, dan sekeranjang ceri tanpa harus lelah mencari sendiri.
Cerita yang sederhana namun sangat menginspirasi kita untuk terus berbagi dan peduli sesama.
terus menulis cerita mantap seperti ini ya Pak Bams
Terimakasih rucci sudah jadi peri yang baik, menolong mungkin akan sedikit menghabiskan waktu betul kata melly namun disisi lain ada bnyak hal baik yg bisa kita dpat
ReplyDeleteSeperti rasa bahagia bisa menolong
Setelah itu kebikan oun akan dtng kembali kepada kita
Aku pernah baca ini
ReplyDeleteLupa di Majalan Bobo edisi berapa, haha
Pastinya tuh aku bangga karena baca majalah yang di dalamnya ada tulisan teman
Jangan pernah berhenti berkarya Pak Bams
Wah, Peri Rucci ini baik hati sekali, mau membantu sesama peri yang kesulitan walau pun dia juga ada keperluan sendiri. Jadi reminder juga kalau kita ikhlas suka menolong itu nggak ada ruginya ya, walau nggak ada rasa pamrih, tapi segala perbuatan baik pasti akan ada balasannya juga. Cerpen yang manis sekali, Pak!
ReplyDeleteKangen nulis cerita anak lagi.. pengen jajal proyek Litara yang tema resiliensi, Daeng ikutan tidak?
ReplyDeletePeri Rucci kaya mengingatkan aku kalau manusia itu punya sisi baik. Dulu waktu kecil kita ringan sekali membantu orang, tanpa pamrih. Sekarang lebih banyak itung-itungan sama waktu. Ah dewasa emang gitu! Kadang kita perlu membaca lagi cerita-cerita seperti ini untuk mengingatkan kembali bahwa kita tu sebenarnya pure lho...dan setiap kebaikan yang kita lakukan dengan tulus, dengan sendirinya akan berbuah manis :)
ReplyDeleteMasya Allah, dari cerita ini kita bisa menanamkan pesan moral kepada anak-anak, bahwa menolong orang lain itu menyenangkan. Bukan karena mengharapkan balasan tapi karena kebahagiaan itu menular. Dan Sang Pencipta pun juga kan memberikan balasan untuk setiap amal baik dengan kebaikan pula. Keren, serita ini ditulis bahasa ringan dan mudah dipahami anak-anak
ReplyDeletewah sudah lama daku nggak baca cerpen anak nih apalagi ini bikinan mas Bambang yang sudah langganan di majalah bobo. beneran bagus cerpennya dan bikin aku pengen belajar bikin cerpen anak lagi dari sini
ReplyDeleteCerita yang bagus sekali, mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang sia2 yaa.
ReplyDeleteOrang dewasa kadang perlu baca cerpen anak supaya bisa belajar lagi tentang nilai2 kayak gini :D
Pak Bambang masih aktif menulis cerita anak dan kasi pelatihan nggak sih? Hehe malah kepoh.
Jadi keinget dulu tahun 2015-2016an belajar nulis cernak dari Pak Bambang :D
Menulis cernak buat orang dewasa ternyata sesusah itu yaa, karena udah banyak yang dipikirin jadinya imajinasinya tu suka nggak keluar (itu aku haha :P ).
Emang kudu banyak diasah latihan menulis cernaknya. Ah jadi pengen belajar lagi kaaan :D
"Terima kasih" akan membuat yang memberi semakin senang yaa..
ReplyDeleteRasanya membaca cerita anak mengenai peri membuat kita semua membayangkan indahnya dunia ketika semua orang baik, ramah dan penuh rasa syukur.
Kebaikan yang kita berikan terkadang kembali kepada kita dengan cara tak terduga. Membaca cerita pak Bambang saya jadi semakin yakin bahwa berbuat baik kepada orang lain itu pasgi akan berbalik kepada diri kita sendiri, bagaimana pun caranya biarlah semesta yang bekerja.
ReplyDelete