} Baju Baru Tuning - Rumah Kurcaci Pos

Baju Baru Tuning

Tuning terpilih menjadi pemeran utama dalam drama sekolah. Ia senang sekali. Namun ia juga cemas. Bu Mira mengumumkan bahwa setiap pemain harus menyiapkan kostum sendiri.Tuning terpilih



Baju Tuning tak ada yang sesuai perannya. Keluarganya tak pernah membeli baju baru. Semua pakaiannya merupakan jahitan tangan ibu. Bukan dengan mesin jahit. Ibu hanya punya jarum dan benang. Tabungan ayah dan ibu tak pernah cukup untuk membeli mesin jahit. Selalu ada keperluan lain yang lebih diutamakan.

“Bu, apakah Ibu punya persediaan kain?” tanya Tuning hati-hati.

“Tidak. Kain terakhir sudah ibu buat untuk bajumu. Kenapa? Kamu ingin baju baru?” Ibu balik bertanya.

“Ehm...nggak apa-apa kok, Bu!” Tuning tersenyum, tak ingin membuat ibu khawatir. Ia tahu, ibu tak punya uang berlebih untuk membeli kain.

Aku harus mencari uang sendiri, pikir Tuning. Ia pergi ke toko Bu Eta. Setiap hari minggu, sepulang dari gereja, Tuning membantu Bu Eta. Ia bisa mengerjakan apa saja. Menata dagangan, menimbang gula, atau melayani pembeli sudah biasa dilakukannya. Uangnya ia gunakan untuk membeli peralatan sekolah.

“Selamat sore, Bu,” sapa Tuning pada Bu Eta.

“Sore juga, Tuning. Tumben main kesini bukan hari libur. Ada apa?”

“Bu, bolehkah saya membantu di sini setiap hari setelah pulang sekolah?”

“Tentu saja boleh. Pekerjaan ibu jadi lebih ringan kalau ada kamu,” jawab Bu Eta senang.

Yes! teriak Tuning dalam hati. “Terima kasih, Bu. Saya mulai besok siang,” kata Tuning riang.

Setelah makan siang dan mencuci piring, Tuning membantu di Toko Bu Eta. Sorenya, ia latihan drama di sekolah seminggu tiga kali.

“Tuning, apa kamu nggak capai bekerja di toko setiap hari? Nanti kamu nggak bisa belajar lagi,” tegur ibu lembut.

“Nggak kok, Bu. Ini aku masih belajar,” jawab Tuning.

Setelah satu minggu bekerja terus-menerus, Tuning mulai merasa lelah. Malam hari ia terlalu mengantuk untuk belajar. Kalau memaksakan diri, paginya sering terlambat bagun. Di sekolah pun ia tak bisa konsentrasi dan sering mengantuk.

Saat latihan drama ia sering melakukan kesalahan. Bu Mira memintanya mengulangi adegan. “Tuning, kenapa kamu tidak konsentrasi? Biasanya kamu bermain bagus,” tegur Bu Mira.

“Maaf, Bu. Saya hanya sedikit kelelahan.”

“Sebaiknya kamu istirahat dulu. Latihan berikutnya lebih baik ya! Jangan terlalu banyak bermain. Jadi saat latihan kamu bisa fokus.”

Tuning mengangguk lemah. Ia pulang dengan resah. Karena bekerja di toko, aku jadi kelelahan. Tapi, kalau nggak bekerja aku nggak bisa beli kain untuk kostum.

Agar tidak kelelahan, Tuning mengurangi waktu kerjanya. Ia membantu Bu Eta hanya pada hari tidak ada latihan drama. Untunglah, Bu Eta mau mengerti.



Seminggu menjelang pentas drama, Tuning menghitung uang tabungannya. Belum cukup. Aku harus bekerja beberapa hari lagi baru bisa membeli kain. Tapi ibu tak akan sempat menjahitkan untukku.

Tuning resah. Bu Mira meminta semua pemain memakai kostum saat gladi resik. Apa aku pakai baju seadanya saja, ya? Ah, tidak. Pasti akan mengganggu penampilan drama.

Tuning memberanikan diri menghadap Bu Mira. “Bu, saya mau mengundurkan diri.”

Bu Mira terkejut. “Kenapa? Pentas kurang satu minggu lagi. Penampilanmu juga cukup bagus.”

Tuning tak berani menatap Bu Mira. “Saya belum punya kostum, Bu!”

“Bukankah ibu sudah memberitahumu sejak awal latihan? Apakah orang tuamu sudah tahu?”

“Saya tidak ingin menambah beban orang tua saya, Bu.”

Bu Mira tersenyum. “Tuning, anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Seperti apapun kondisinya, ayah ibumu pasti akan memberikan yang terbaik untukmu. Kalau kau tidak bilang, bagaimana mereka akan tahu kebutuhanmu? Bicaralah pada ibumu.”

“Iya, Bu.”

Tuning mencari ibu di rumah. Ia tak menemukan di manapun. Di ruang depan, di dapur, dan di kamar ibu juga tidak ada. Ia lalu masuk kamarnya sendiri.

Ia terpekik kaget. Di atas tempat tidur tergeletak sebuah gaun indah. Sangat sesuai untuk perannya, seorang putri. Dicobanya gaun itu. Pas sekali. Ia mematut diri dan berputar di depan cermin. Sejenak ia tertegun. Rasanya ia kenal motif gaun itu. Matanya terbelalak. Bukankah...

“Cocok tidak kostumnya?” Ibu mengamatinya dari ambang pintu. “Minggu lalu ibu bertemu Bu Mira di pasar. Kata beliau kamu akan menjadi seorang putri dalam drama sekolah. Pantas saja kamu giat sekali mencari uang,” kata ibu menggoda.

“Tapi..., bukankah... bukankah ini gaun kesayangan ibu?” Tuning menatap ibunya takjub. Rupanya ibu membongkar gaun terbaiknya. Gaun yang hanya dipakai pada saat-saat istimewa. Lalu ibu menjahitnya kembali untuk kostum Tuning.

“Tidak apa-apa. Ibu akan sangat bahagia melihat seorang putri memakai gaun ibu minggu depan.”

Tuning menghambur ke pelukan ibu. “Terima kasih, Bu!”

Fransisca Emilia




 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Baju Baru Tuning"

Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.