![]() |
| Gambar : Canva |
Matahari sore bersinar hangat. Taman bermain ramai oleh anak-anak penghuni komplek. Tampak Adeeva dan Tama juga. Mereka penghuni rumah Blok B1 No.9 di kompleks Windflower House Jakarta.
"Ayo, Tama! Kamu pasti bisa!” Teriak Adeeva memberi semangat kepada adiknya.
“Tapi jangan dilepas ya, Kak!” teriak Tama sambil konsentrasi memegang stang sepeda. Anak laki-laki usia 7 tahun itu memang lagi bersemangat belajar nsik sepeda. Makanya hampir setiap sore, ia mengajak kakaknya ke taman kompleks.
“Iya, aku pegangin, nih! Ayo, semangat!”” sahut Adeeva dari belakang.
Tama jadi tenang. Pelan-pelan ia mulai mengayuh sepeda. Sepeda warna merah itu mulai bergerak melaju pelan di aspal. Tama semakin percaya diri. Apalagi ada Adeeva yang memegang sepeda di belakang. Tama pun mulai pedal mengayuh sepeda lebih cepat. Sepeda pun bergerak semakin kencang.
“Wah, Kamu sudah bisa naik sepeda, Tam!” Teriak Adeeva gembira.
Tama terkejut mendengar teriakan kakaknya. Spontan ia menoleh ke belakang, Tampak kakaknya melambaikan tangan di kejauhan. Tama jadi panik. Ternyata Kak Adeeva itu tidak memegangi sepeda yang ia naiki.
“Aduh, bagaimana ini?” Tama pun hilang kosentrasi. Sepeda yang ia kemudikan jadi oleng. Bruuuuk… sepeda Terhenti di got. Gubrak… Tama pun jatuh ke selokan. Untung selokan itu tidak ada airnya.
“Mamaaaaa…” tangis Tama pecah sambil memegangi lutut kirinya yang terluka. Tampak Adeeva berlari-lari menghampiri Tama.
“Kamu tak apa-apa, Tam?”
“Lutut Tama sakit nih, kak! Semua gara-gara Kak Deeva! Kenapa Kak Deeva lepasin sepedanya?”
Adeeva berusaha membantu Tama berdiri. Tapi ia agak kesulitan. Untung Pak Tatang, satpam komplek lewat. Pak Tatang segera membantu Tama.
“Bapak antar Tama pulang, ya!”
Tama hanya mengangguk sambil mengaduh kesakitan.
Akhirnya Tama digendong Pak Tatang pulang ke rumah. Adeeva menuntun sepeda Tama. Samapai di rumah, tampak Papa dan Mama sedang duduk bersantai di teras rumah. Mereka minum teh ditemani martabak manis keju.
“Tama kenapa?” Mama segera menyambut saat melihat Tama pulang digendong Pak Tatang.
Pak Tatang lalu bercerita pada Mama dan Papa. Setelah itu pak Tatang pun segera pamit. Tidak lupa Papa dan Mama berterima kasih pada Pak Tatang.
“Semua gara-gara Kak Deeva tidak memegang sepeda Tama,” ucap Tama marah.
“Eh, kamu tidak bersyukur dibantu belajar naik sepeda. Sekarang malah menyalahkan aku!” Balas Kak Adeeva membela diri.
“Sudah, jangan saling menyalahkan!” Lerai Mama. “Sekarang ayo, masuk! Biar Mama obati luka Tama dulu.”
Papa lalu menggendong Tama menuju ruang keluarga. Papa mendudukkan tama di kursi. Mama lalu mengambil kapas, alkohol, dna obat merah di kotak obat. Adeeva memperhatikan saja dari jauh.
Mama segera membersihkan luka Tama dengan alkohol.
“Aduh… perih, Ma! Perih!” ucap Tama.
“Sabar sebentar, Tam! Lukamu dibersihkan dulu dengan alkohol karena kemampuannya sebagai antiseptik ang cepat mmebunuh kuman, bakteri, virus dan jamur,” Mama menjelaskan.
Tama pun jadi tenang. Pastinya ia tidak mau lukanya jadi infeksi. Mam jadi cepat membersihkan lukanya. Setelah itu, mama memberi obat merah pada luka Tama.
“Selesai, sekarang kamu masuk kamar saja istirahat dulu, ya!” suruh Mama.
Tama mengangguk. Dengan jalan agak terpincang-pincang, Tama menuju kamarnya. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lututnya masih terasa perih.
Eso harinya, luut Tama masih perih. Untung hari ini hari minggu, jasi Tama tidak perlu izin sekolah. Tapiia tetap kesal, karena sejak pagi di rumah saja Padahal rencannya hati ini ia mau berenang di kolam renang kompleks.
“Gagal deh, berenang! Swua gara-gara Kak Deeva!” ucap Tama kesal.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, lalu muncul kepala Kak Adeeva dari balik pintu.
“Tamaaa…. Kamu lagi ngapaian?” sapa Kak Adeeva.
Tama diam saja. Mulutnya maju beberapa senti.
“Kamu masih marah pada Kak Deeva, ya?” tanya Kak Deeva sambil berjalan menghampiri tempat tidur,
“Jangan ganggu Tama ya, Kak. Tama masih kesal, nih!” tukas Tama.
Akhirnya Adeeva tak jadi mendekati Tama. Ia lalu keluar kamar dan menemui Mama yang sedang di dapur.
“Ma, Tama masih marah padaku,” Adeeva mengadu pada Mama.
Mama mengangguk paham. “Oh, begitu. Bagaimana kalau kita buatkan… “ mama membisikkan sesuatu pada Adeeva. Wah Deeva langsung setuju.
Adeeva lalu membantu Mama. Ia berlari mengambil tempe di kulkas. kemudian Adeeva menggambil tepung terigu dan tepung beras di lemari penyimpanan.
“Ini, Ma bahan-bahan membuat tepung tempe!”
“Terima kasih, Adeeva!”
Mama lalu meracik bumbu tempe. Pertama Mama menghaluskan bawang putih, ketumbar dan garam. Biar tempe tepung semakin gurih, mama menambahkan kemiri. Setelah itu mama memasukkan tepungt erigu dan tepung beras ke dalam wadah. Lalu diberi air sambil diaduk berlahan. Biar warnanya semakin cantik, mama menambahkan sedikit kunyit bubuk. Tidak lupa mama memberikan irisan daun bawang. Terakhir diberi penyedap rasa ayam.
“Taraa.. adonan tempa tepung sudah siap. Saatnya digoreng!” ucap Mama.
Mama menaruh wajan di atas kompor, lalu menuangkan minyak goreng yang cukup. Setelah itu mama menyalakan kompor. Biar hasil tempe tepung goreng renyah, maka tempe harus terendam minyak saat digoreng.
Mama lalu mengiris tempe tipis tipis, lalu mencelupkan ke adonan. Setelah minyak panas, Mama mulai mnggoreng tempe.
“Ehm.. harumnya…!” Kata Adeeva.
“Ini kalau digoreng setengah matang juga enak lho, Dev. Namanya tempe mendoan,” mama menjelaskan.
O, iya. Adeeva pernah makan tempe mendoan saat ke rumah nenek di kebumen Jawa Tengah. Malah di sana ada tempe khusus dibuat untuk mendoan. Ukurannya besar dan lebar. Enakya dicocol kecap yag diiris cabe rawit. kecapnya juga khas kecap cap Kencana buatan khusus pabrik kebumen.
Setelah lima menit, tempe tempe tepung sudah matang. Mama mengangkat tempe dari penggorengn lalu meniriskan dulu. Setelah itu Mama menaruh di piring.
“Nah, skarang Deeva kasih ke Tama. Dia pasti senang dan tak marah lagi, suruh Mama.
“Baik, Ma, sahut Deeva lalu dengan semangat menuju ke kamar. Tidak lupa ia mengambil sesuatu dulu untuk Tama.
“Tamaaa….!” Panggil Adeeva.
“Apa lagi sih Kak? Tama kan sudah bilang jangan ganggu!”
“Ih, siapa yang mau ganggu kamu. Kakak mau kasih tempe tepung kesukaan kamu nih!” kata Tama sambil menyodorkan Tempe tepung ke Tama
Wwh.. wajah Tama langusng berseri-seri melihat tempe tepung kesukaannya. “Asyik!” sorak tama sambil mencomot satu tempe tepung. “Enak, Kak!”
“Kak Deeva yang bantu mama membuatnya, lho.”
“Terima kasih Kak!”
“Nih, ada hadiah lagi buat kamu!” Deeva memberikan boneka ondel-ondel daei botol plastik yang semalam ia buat.
“Wah.. terima kasih, Kak Adeeva. Kok Kak Deeva bisa buat boneka ondel-onde?”.
“Kan, kakak belajar dari youtube. Semalam kakak membuatnya, lho!”
“Wah, Kak Adeeva keren.
“Jadi kamu ga marah lagi pada kak Adeeva?”
“Tentu saja tidak, Kak. Tama bangga punya kakak keren!”
Adeeva senang mendengarnya. Ia langsung memeluk adiknya itu.
Mama tersenyum melihat dari balik pintu.
.png)
0 Response to "Tama Tidak Marah Lagi"
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.