} Gaun Bu Lastri - Rumah Kurcaci Pos

Gaun Bu Lastri


Sudah tiga jam, Bu Lastri sibuk membongkar isi lemari pakaiannya. Bu Lastri sudah mencoba seluruh gaun koleksinya. Akan tetapi, tidak satupun gaun yang sesuai dihatinya.

Dimuat di Majalah Bobo

      Bu Lastri menghempaskan tubuh di sofa kamar. Bu Lastri bingung. Dua minggu lagi ia harus menemani Pak Amri, suaminya menghadiri perjamuan makan malam di kedutaan Negara Singapura.

     Tentu saja Bu Lastri harus tampil cantik dan anggun. Bu Lastri tidak ingin Pak Amri malu mangajaknya ke pesta itu. Ah, aku harus membeli gaun baru.

     Siang hari Bu Lastri bergegas ke pusat perbalanjaan. Ia menyusuri toko-toko yang menjual gaun. Bu Lastri lalu memutuskan masuk ke sebuah toko kain.

     Bu Lastri lalu memilih-milih kain sari India yang di pajang di depan toko itu. Ah, kain sari India ini tidak cocok untukku. Kainnya terlalu tipis dan motifnya ramai. Aku tidak mungkin memakai pakaian yang memperlihatkan pusar itu.

     Bu Lastri kemudian pindah ke kain spanyol yang dipajang disbelah kiri toko . Ah, warnanya terlalu mencolok. Kain ini cocok untuk anak-anak muda.

    Bu Lastri terus berpindah toko kain. Tapi tidak ada yang sesuai hatinya.
    Akhirnya Bu Lastri pulang ke rumah. Ia bertambah bingung.

    “Kamu darimana saja?” tanya Pak Amri, saat Bu Lastri tiba di rumah.

    Bu Lastri menceritakan masalahnya pada Pak Amri.
   “Bagaimana kalau kamu membuat gaun saja. Nyonya Anne pasti bisa membuatkan gaun yang bagus untukmu,” saran Pak Amri.

     “Tetapi, aku tidak mempunyai kain,” keluh Bu Lastri

      “Bagaimana kalau dari kain batik saja,” usul Pak Amri. “Seingat saya, kamu masih punya kain batik cirebon pemberian Bibi Sundari.”

     “Ah, membuat gaun dari kain tradisional? Apa kamu tidak takut di tertawakan tamu-tamu pesta?”

    “Tidak akan ada orang yang menertawakanmu,”  Pak Amri menyakinkan istrinya.

     Bu Lastri lalu pergi ke lemari kaca. Kain batik itu pemberian Bibi Sundari waktu ia pulang ke Indonesia. Sudah dua tahun ia menyimpan kain batik itu.

     Besoknya, Bu Lastri pergi ke butik langganannya. Dengan ragu Bu Lastri memasuki butik itu.

     “Selamat pagi Nyonya Lastri, ada yang bisa saya bantu,” sambut Nyonya Anne, pemilik butik dan perancang busana.

     “Saya ingin membuat gaun dari kain batik ini,” kata Bu Lastri sambil mengeluarkan kain batik.

     Mata Nyonya Anne langsung membulat. Bu Lastri jadi gelisah.

    “Apakah kain saya tidak bagus nyonya Anne?” tanya Nyonya Ivone cemas.

    “Tentu saja bagus, Nyonya Lastri” jawab Nyonya Anne.
     Tapi Bu lastri  tidak percaya dengan ucapan Nyonya Anne. Mungkin saja Nyonya Anne berkata tidak jujur, hanya untuk menyenangkan hati Bu Lastri, Karena dia adalah pelanggan setianya.

     Seminggu sudah berlalu. Bu Lastri datang ke butik Nyonya Anne.
Gaun Bu Lastri sudah jadi.

     “Bagus sekali, Nyonya Lastri. Anda terlihat semakin cantik,” puji Nyonya Anne saat Bu Lastri mencoba gaun barunya.

     “Terima kasih pujiannya, Nyonya Anne,” ucap Bu Lastri tersenyum tipis.

     Hari yang dinanti akhirnya tiba. Bu Lastri harus pergi ke perjamuan makan malam itu. Bu Lastri ragu-ragu mengenakan gaun batik itu.

     “Wow, kamu cantik sekali,” puji Pak Amri.

     Bu Lastri hanya tersenyum. Mungkin saja suaminya itu hanya ingin menyenangkan hatinya saja.

     Saat tiba di tempat acara, semua mata menatap Bu lastri. Bu Lastri merasa risih. Seperti aku memang salah memilih gaun, sesal Bu Lastri.

     Saat pesta berlangsung, tiba-tiba istri perdana menteri singapua menghampiri Bu Lastri.

     “Indah sekali gaun, Anda. Dimana Anda membelinya? Baru pertama kali saya melihat gaun dengan kain seindah ini,” puji Istri perdana menteri Singapura.

     “Ini batik tulis khas cirebon, Madam. Coraknya bernama mega mendung. Lama pengejaannya setahun,” Bu Lastri menjelaskan.
     Semua tamu mengagumi gaun Bu Lastri. BU Lastri senang dan bangga.

     “Benar kan, semua tamu mengagumi gaun batikmu. Jangan pernah meremehkan kain tradisional, karena mempunyai nilai cita seni yang tinggi,” kata Pak Amri. “Selain itu, kamu juga ikut membantu mempromsikan budaya Indonesia.”

     Bu lastri tersipu malu. Ia berjanji akan ikut mempromosikan batik di tingkat internasional.

     “O iya, kalau ada acara perjamuan makan malam lagi di kedutaan. Kamu mau pakai baju apa?” tanya Pak Amri.

     “Ehm, mungkin baju bodo, baju adat Sulawesi Selatan,” jawab Bu Lastri tersenyum senang.


Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gaun Bu Lastri"

Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.