} Tuan Tome dan Nyonya Petra - Rumah Kurcaci Pos

Tuan Tome dan Nyonya Petra

                                   
Dimuat di Majalah Bobo Edisi Februari 2017



                                          Tuan Tome dan Nyonya Petra
                                                       Oleh : Afrilla Dwitasari
        Di kota Triberg di Jerman, tinggalah sepasang suami istri. Tuan Tome dan Nyonya Petra namanya. Mereka memiliki toko kue "Liebekuchen" yang menjual kue khas Triberg, yaitu black forest. Toko "Liebekuchen" selalu ramai oleh pengunjung yang berjalan-jalan ke air terjun terkenal di Triberg. Namun akhir-akhir ini, toko itu sepi.
        Suatu pagi, Nyonya Petra merenung. Ia melepaskan topi dan celemeknya, mengempaskan badannya yang gemuk di bangku kayu.
      "Kenapa kau melamun, Petra?" tegur Tuan Tome.
      "Toko kita sepi, sekarang toko kue baru menjamur di sekitar air terjun. Apa yang harus kita lakukan, Tome?"
      "Hmm.. Apa, ya?" Tuan Tome menggaruk-garuk kepalanya.
       Nyonya Petra memang tidak bisa mengandalkan suaminya yang tidak suka bekerja.´Berbeda sekali dengan dirinya. Ia tekun, giat, dan juga ramah kepada pelanggannya.
      Tuan Tome tidak betah membuat kue. Ia sering tertidur saat mengaduk adonan dengan kayu.
       "Tome, bagaimana kalau kau mencari kursus membuat kue? Cobalah belajar membuat kue terbaru! Sudah saatnya kita menambah jenis kue. Kalau kue kita bervariasi, pelanggan akan bertambah!" pinta Nyonya Petra.
      "Dimana?"
      "Carilah di kota! Ada di cafe besar!"
      Dengan memakai sepatu boot kulit dan jaket hitam andalannya, Tuan Tome memenuhi permintaan istrinya. Ia pun menemukan satu cafe besar.
       Ketika masuk ke cafe, ia melihat sebuah tulisan "Kein Meister faellt vom Himmel" (Tidak ada ahli yang jatuh dari langit). Apa maksudnya tulisan itu, gumam Tuan Tome dalam hati.
      "Selamat pagi! Saya Tome. Saya ingin mendaftar kursus!"
       Pemilik cafe memandangi Tuan Tome dari kepala hingga ujung kaki. Tuan Tome memang kurus tinggi.
      "Baiklah, silakan datang besok, " ujar pemilik cafe.
      Setelah membayar biayanya, ia kembali ke rumah dan bercerita kepada istrinya.
      "Baguslah! Belajarlah yang benar, Tome!" pesan Nyonya Petra.
       Esoknya, Tuan Tome masuk kelas.
      "Selamat pagi! Hari ini kita akan membuat bolu kismis. Sekarang perhatikan petunjuk saya dan ikuti langkah-langkahnya!" Sang koki guru berkata lantang.
        Semua peserta mengikuti perintahnya.
      "Uh, susah sekali! Ah, ini membosankan!" Tuan Tome menggerutu terus.
       Ketika kelas selesai, koki guru memeriksa kue-kue peserta. Tuan Tome gagal. Tapi, koki guru tidak marah kepadanya.
      "Tidak apa, datanglah lagi besok. Kan masih ada lima kali pertemuan."
      "Apa?! Lama sekali!" Tuan Tome melotot.
      "Memang begitu, Tuan. Membuat kue butuh latihan!"
       Tuan Tome menjatuhkan topi dan celemeknya lalu pulang.
      "Aku tidak mau belajar selama itu! Kupikir sehari saja bisa!" gerutunya ketika sampai di rumah.
      "Astaga! Kau memang tidak sabar!"
        Nyonya Petra geleng-geleng kepala. Ia sudah paham sifat suaminya, malas bekerja tapi ingin cepat dapat hasil.
       "Hei, Petra, bagaimana kalau aku belajar melukis? Lukisanku bisa kujual nantinya!" Tiba-tiba malamnya Tuan Tome menyampaikan ide baru.
       "Terserah kau!" Nyonya Petra malas berdebat.
       Esoknya, Tuan Tome mendapatkan tempat belajar melukis. Ia boleh mulai hari itu juga. Tuan Tome heran saat melihat papan bertuliskan "Kein Meister faellt vom Himmel". Kenapa ada tulisan serupa di sini, gumamnya.
        Saat belajar, Tuan Tome merasa jenuh. Melukis memang bukan minatnya.
       "Berapa lama saya bisa seperti Anda?" keluhnya.
      "Satu tahun. Melukis butuh latihan keras. Tidak ada yang instan, " ujar sang guru lukis.
       Mata Tuan Tome membelalak.
       "Apa?? Satu tahun?! Saya tidak jadi melukis!"
       Kali ini Nyonya Petra marah. Wajahnya merah padam mendengar cerita suaminya.
       "Kau sudah menghabiskan biaya tapi tanpa hasil! Kali ini aku beri satu kesempatan terakhir!"
         Tuan Tome berpikir keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk belajar membuat minuman. Ia memang senang meramu berbagai minuman. Ah, mungkin memang lebih enak kalau aku suka melakukannya.
        Tuan Tome kembali mencari tempat kursus membuat minuman. Kebetulan kemarin ia melihat pada brosur di salah satu cafe.
        Ia mendatangi cafe tersebut. Alangkah terkejutnya ia karena di sana pun ada tulisan "Kein Meister faellt vom Himmel" di tembok.
        Saat mendaftar, pemilik cafe berkata, "Baik Tuan, besok kelas dimulai. Kita akan membuat minuman tradisional eggnog dan lumumba. Anda harus serius belajar di sini. Jika Anda tidak mengikuti lima kali pertemuan, maka Anda harus membayar denda!"
        Tuan Tome terpaksa mengikuti peraturan. Hari pertama ia mengeluh dan mengomel saat menemui kesulitan. Namun, ia tetap mengikuti kelas hingga selesai.
        Suatu malam Nyonya Petra melihat suaminya membaca buku resep dengan serius. Semoga saja kali ini ia berubah! Doanya dalam hati.
        Benar saja, Tuan Tome terus mengikuti kelas. Di akhir pertemuan, pemilik cafe memberikan sertifikat kelulusan. Tuan Tome girang bukan main. Ia berhasil membuat minuman tradisional. Tak sabar ia menghias tokonya dengan eggnog dan lumumba. Petra pasti gembira!
        Ternyata semua bisa jika dijalani dengan tekun dan sungguh-sungguh. Tuan Tome sadar, selama ini ia tidak mau menjalani proses belajar.
        Saat keluar ruangan, ia kembali melihat tulisan di tembok. Matanya mengerling, senyumnya merekah. Tak ada yang bisa jadi ahli tanpa belajar terlebih dahulu. Aha! Jadi itu maksudnya!
***

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tuan Tome dan Nyonya Petra"

Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.