} Gambar Wening - Rumah Kurcaci Pos

Gambar Wening

 Kak, tolong buatkan gambar gajah, ya!” Wening menyodorkan kertas gambar dan pensil.

“Gambar sendiri. Kakak lagi sibuk,” jawab Kak Radit tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya. Ia membaca sambil tiduran di tempat tidur gantung. Tempat tidur itu digantung di antara dua pohon, di halaman belakang.


“Bantuin dong, Kak!” rengek Wening. Kak Radit tetap bergeming. Karena kesal, Wening menggulingkan tempat tidur gantung. Kak Radit terjatuh.

“Aduh! Kenapa sih, Dek?” Kak Radit mengusap celananya yang kotor terkena tanah.

Wening tersenyum penuh kemenangan. “Aku dapat tugas membuat kolase dengan gambar hewan, Kak. Aku ingin gambar gajah. Kakak gambarkan ya.”

“Loh, itu kan tugasmu. Kalau kakak yang gambar, Kakak pindah SD lagi, dong.”

“Aku nggak bisa gambar gajah. Kakak kan pintar menggambar.”

“Kalau nggak bisa gambar gajah, gambar binatang lain saja. Kutu, misalnya. Tinggal gambar titik saja,” goda Kak Radit.

“Ih..., Kakak! Aku maunya gambar gajah,” sungut Wening. “Tolong ya, Kak!”

“Sini kakak gambarin. Syaratnya kamu harus tutup mata, nggak boleh lihat.” Kak Radit mengambil kertas dan pensil dari tangan wening. 

“Nih, sudah jadi gambarnya. Kerjakan tugasnya baik-baik ya, Dek!” Kak Radit mengacak-acak rambut panjang Wening, lalu meninggalkannya sendirian.


Wening membalik kertas gambarnya. Mulutnya ternganga. Kakaknya menggambar seekor gajah yang sedang memetik daun dengan belalainya. Tapi, ukurannya kecil sekali. Hanya sebesar koin seribuan. Tidak bisa untuk kolase.

Wening kesal sekali. Ia tidak suka menggambar. Setiap kali menggambar, hasilnya tidak seperti yang diinginkanya. Padahal, ia ingin dapat nilai bagus untuk tugas kali ini.

Ayah sedang ke luar kota. Tidak mungkin minta ayah menggambar. Bagaimana kalau minta bunda? Wening lalu menelepon bundanya di kantor.

 “Bunda, nanti malam tolong gambarkan gajah untuk tugasku, ya,” pinta Wening.

“Sayang, nanti telepon lagi, ya! Bunda sedang rapat.”

“Ya, Bunda,” jawab Wening kecewa, lalu menutup telepon.

Wening teringat Luna, sahabatnya yang pintar menggambar. Dulu, keluarga Luna tinggal di depan rumah Wening. Sekarang mereka sudah pindah ke perumahan lain. Luna juga tidak satu sekolah dengan Wening. Mereka kadang-kadang saling berkunjung dan bermain bersama. Namun, belakangan ini Luna tak pernah lagi datang ke rumah Wening.

Wening mengambil sepeda di garasi. Lalu dikayuhnya menuju rumah Luna. Sampai di rumah Luna, dilihatnya Luna hendak pergi naik sepeda.

“Hai, Luna? Mau kemana?”

“Eh, Wening! Apa kabar? Maaf ya aku jarang main ke rumahmu. Setiap sore aku berjualan es lilin di taman.” Luna menunjuk termos es di keranjang sepeda.

“Sebenarnya aku mau minta tolong sama kamu. Tapi, kalau kamu sibuk nanti saja, deh,” kata Wening pelan. “Boleh aku ikut ke taman?”

“Ayo! Kalau sore ramai lho di taman. Kadang-kadang ada acara seru juga.” Wening dan Luna mengayuh sepeda beriringan. Mereka bercerita kegiatan masing-masing selama tidak bertemu.

Di taman sudah ramai oleh warga kota yang menikmati waktu sore. Ada yang berolahraga, ada yang membaca buku, ada pula yang bersantai bersama keluarga. Wening menemani Luna menjajakan es lilin. Banyak pengunjung taman yang menjadi pelanggan Luna. Mereka menyukai rasanya yang alami. Es lilinnya dibuat dari buah asli, tanpa tambahan bahan pewarna dan pengawet.

Wening tertarik melihat keramaian di salah satu sudut taman. “Luna, aku ke sana dulu, ya. Sepertinya ada acara seru.” Ia meninggalkan Luna dan mendekati kerumunan. Ternyata ada lomba menggambar untuk anak-anak.

Wening melihat-lihat gambar peserta. Ada yang menggambar taman. Ada yang menggambar ornag-orang yang berolahraga. Ada yang menggambar bunga-bunga. Rupanya tema lombanya tentang taman.

Sampailah Wening pada seorang anak berkuncir dua. Ia menggambar anak-anak yang bermain egrang. Gambarnya bagus sekali.  Namun, ada yang aneh. Anak perempuan itu menggambar dengan kaki. Ia memegang crayon dengan kakinya.

Penasaran, Wening memutar dan melihat anak itu dari depan. Ia tercekat. Lengan baju anak perempuan itu kosong. Kedua tangannya tidak ada. 

        Wening mengamati lebih seksama. Kelihatannya anak perempuan itu lebih muda darinya. Wajahnya tampak gembira dan bersemangat. Ia mengambil krayon dengan jari kaki kiri dan menyelipkannya ke jari kanan. Lalu ia menggoreskan crayon ke kertas gambarnya. Tidak ada keluhan terdengar.

       Buru-buru Wening mencari Luna. “Luna, aku pulang dulu, ya.”

      “Lho, kenapa cepat pulang?” tanya Luna heran. “Terus, tadi kamu mau minta tolong apa?”

      Wening tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku bisa mengerjakan sendiri, kok.”

       Sampai di rumah, Wening mengetuk pintu kamar Kak Radit. “Kak, buka pintunya, dong!”

       Kak Radit membuka pinta. “Ada apa? Minta digambarin lagi?”

      Wening menggeleng. “Kak, ajari aku menggambar, ya! Aku ingin bisa menggambar sendiri.”

      “Nah, gitu dong. Itu baru adik Kak Radit.” Kak Radit mengacak Rambut Wening.

      Wening tersipu. Ia harus bisa menggambar sendiri, agar tidak tergantung pada orang lain.


Fransisca Emilia



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gambar Wening"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.