} Dongeng Anak - Cahaya Candella - Rumah Kurcaci Pos

Dongeng Anak - Cahaya Candella

“Apakah menjadi cahaya itu sakit?” tanya Candella perlahan.

Kalilla menggeleng. “Kukira tidak. Semua lilin ingin menjadi cahaya. Bukankah kita dibuat untuk bercahaya?”

dongeng cahaya candella hasil kelas kurcaci pos
Dimuat di Majalah Bobo no 26, 1 Oktober 2020

“Tapi, tubuh kita akan meleleh dan habis. Pasti membuat kita menderita,” sanggah Candella.

“Tidak mungkin, Candella sayang! Lihat saja, semua teman kita tak sabar menjadi cahaya. Mereka berlomba-lomba keluar dari keranjang ini. Dan sekarang tinggal kita berdua.” 

Lonceng di pintu toko berkelinting. Seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan yang lebih kecil masuk. Wajah mereka dekil dan bajunya lusuh.

“Nyonya, saya mau membeli sebatang lilin.” Si anak lelaki meletakkan uangnya di atas meja etalase. 

Kalilla menatap Candella dengan riang. “Kamu atau aku duluan?”

“Kamu saja!” jawab Candella. Ia segera menyelinap ke belakang Kalilla.

Nyonya Rosa, pemilik toko meraih keranjang lilin tanpa memperhatikan. Tak sengaja tangannya menyenggol Kalilla hingga terjatuh. Lalu ia mengambil Candella dan menyerahkan pada anak lelaki kumal itu.

“Oh, tidak!” pekik Candella ketakutan. 

Si anak lelaki memasukkan Candella dalam saku. Ia dan anak perempuan kecil itu meninggalkan toko.

“Jadi, Kak Todi bisa membacakan cerita di buku ini kan?” tanya gadis kecil itu penuh harap. Ia menunjukkan buku yang dibawanya. Buku itu tua dan lusuh. Beberapa bagian sudah sobek.

Kakaknya mengangguk.”Nanti kita nyalakan lilinnya untuk penerang, Melia.”

Gadis kecil bernama Melia itu tertawa kegirangan. Ia melompat-lompat sambil menyanyi. 

Todi dan Melia tiba di tempat tinggal mereka. Sebuah gubug yang terbuat dari seng dan kardus bekas. 

“Ayo Kak! Lekas Nyalakan lilinnya!” pinta Melia tak sabar.

Candella ketakutan. Ia tidak ingin terbakar. Ia tak ingin tubuhnya musnah. Ia bertekad untuk melakukan sesuatu agar tidak bisa terbakar.

Todi menyalakan sebatang korek dan mendekatkan ke sumbu Candella. Candella mengeraskan sumbunya. Batang korek terbakar habis dan mati. Todi  menyalakan korek lagi. Candella mengerahkan tenaganya lebih keras. Sumbunya tidak menyala.

“Huuh! Sepertinya kita mendapat lilin yang jelek. Mungkin lilin ini basah,” kata si anak lelaki kesal. “Padahal, kita membeli lilin ini dengan uang tabungan kita.”

“Lalu, kapan Kak Tobi akan membaca buku ceritanya?” tanya Melia sedih.

“Kakak tidak bisa membaca dalam gelap, Melia. Besok kita jemur dulu lilinnya. Sekarang tidurlah!”

Melia berbaring di sudut gubug dengan memeluk bukunya. Air matanya meleleh. “Kak, besok beli lilin lagi ya!”

“Iya, besok aku akan lebih lama mengamen.” Tobi lalu meniup harmonikanya. Ia mengalunkan sebuah lagu untuk menidurkan Melia.

majalah bobo teman ebrmain dan belajar
Asyiknya di Rumah Kalau Ada Bobo

Oh, kasian sekali mereka, pikir Candella. Ia merasa iba pada Melia. Mungkin cahayaku bisa membuatnya bahagia. Candella menyesal telah mengeraskan sumbu. 

Pagi harinya, Candella melihat Tobi dan Melia bangun pagi-pagi sekali. Mereka hanya sarapan beberapa potong ubi. Kemana orang tua mereka? tanya Candella dalam hati.

“Melia, kamu sudah siap ikut mengamen?” tanya Tobi

“Siap, Kak. Aku sangat bersemangat, agar bisa membeli lilin baru.”

Tobi menepuk bahu Melia. “Setelah mengamen, kita ke kuburan ayah dan ibu, ya! Kita minta saja sedikit bunga pada Nyonya Kamel,” kata Tobi.

Melia mengangguk. Mereka lalu keluar dari gubug.

Oh... benar. Mereka sudah yatim piatu. Kasihan sekali mereka, batin Candella. Ia semakin merasa bersalah.  

Candella tak sabar menunggu Melia dan kakaknya pulang mengamen. Ia ingin bercahaya dan membuat Melia dan Tobi senang. Saat kedua anak itu pulang, Candella melemaskan sumbunya agar mudah terbakar.

“Ayo, cepat bakar lilin baru, Kak! Aku tak sabar ingin dibacakan dongeng,” pinta Melia.

“Sabar, adikku sayang! Sebaiknya, kita coba nyalakan lilin yang kemarin. Mungkin saja bisa.”

Tobi menyalakan korek. Sumbu Candella langsung menyala. Ia meletakkan Candella dalam toples bening. Cahayanya menerangi seisi gubug.

Melia bersorak senang. Ia memberikan buku ceritanya pada kakaknya. Tobi membacakan cerita dongeng tentang seorang gadis miskin yang menjadi putri. Melia terlihat sangat bahagia. Senyumnya masih menghias wajahnya saat tertidur. Kakaknya segera meniup Candella.

Candella gembira sekali. Cahayanya membuat Melia tersenyum. Dan ia sama sekali tidak merasa kesakitan. Justru ia merasa sangat bahagia.

Malam berikutnya, Melia tak sabar dibacakan cerita. “Cepat nyalakan lilinnya, Kak!” Ia menyodorkan bukunya. 

Tobi menyalakan Candella dan membaca buku cerita itu. Melia mendengarkan sampai tertidur. Tobi ikut tertidur. Ia lupa memadamkan Candella.

“Aduh! Tubuhku pasti segera habis. Besok aku tidak bisa menerangi mereka lagi,” gumam Candella sedih.

Candella menyala sepanjang malam. Tubuhnya meleleh dan semakin pendek. Ia memandang sedih Melia dan Tobi. “Selamat tinggal Melia. Aku bahagia, karena besok malam kalian sudah mendapat cahaya lain untuk membaca cerita.”

Tubuh Candella sudah habis. Sumbunya masih menyala di antara sisa-sisa lelehannya. Ia memejamkan mata. Ia merasa bebas dan ringan sekali. Ia melayang dalam sukacita. Terbang dalam kegembiraan yang luar biasa.

Fransisca Emilia


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dongeng Anak - Cahaya Candella"

Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.