Hari ini, mama dan papa akan pergi ke pesta pernikahan teman mama di Bogor. Mika dan Reca tidak diajak, mama khawatir mereka akan lelah menempuh perjalanan jauh. Apalagi, Mika dan Reca baru sembuh cacar air seminggu yang lalu.
“Mama cantik sekali,” puji Mika berseri-seri.
“Mama juga wangi,” tambah Reca.
“Terima kasih, Sayang!” jawab mama lalu
bergantian mengecup pipi Mika dan Reca. “Kalian baik-baik di rumah, ya! Kalau
ada apa-apa, bilang Mbak Iyah aja,” pesan mama.
Mika dan Reca mengangguk, lalu mengantar
mama keluar rumah. Papa sudah menunggu di dalam mobil.
“Pulangnya bawa oleh-oleh ya, Ma, ya, Pa!”
pesan Reca. Mama mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.Papa lalu melajukan mobil
meninggalkan rumah.
Mika
lalu mengajak adiknya nonton film Barbie. Tapi, hanya 15 menit mereka sudah
bosan. Film itu memang sudah sepuluh kali mereka tonton dan sudah hapal jalan
ceritanya.
“Reca, kita main tamu-tamuan aja, yuk,”
tiba-tiba Mika mendapat ide.
“Apa itu, Kak?” tanya Reca agak bingung.
“Ya, tamu-tamuan. Seperti kalau mama
mengadakan arisan. Kita makan kue dan minum sirup,” jelas Mika.
Reca langsung setuju. Mika mengajak Reca
ke dapur.
“Jangan berisik ya, nanti Mbak Ijah tau,”
pesan Mika.
Mika lalu mengambil dua buah cangkir mama
di lemari kaca dapur. Kemudian ia membuka kulkas dan mengambil sirup dan
sebotol air dingin. Mereka lalu kembali ke ruang tengah.
“Apa yang kamu sembunyikan di balik
bajumu?” tanya Mika.
“Saya mengambil sekotak donat, Kak. Mama
kan, selalu menyediakan kue untuk tamu,” jawab Reca yang umurnya masih 5 tahun
itu. Sedangkan umur Mika 10 tahun.
“Anak pintar,” Mika mengacungkan jempol.
Reca tertawa senang.
“Bu Reca mau minum sirup?” Mika
menyodorkan sirup yang baru ia buat untuk Reka
“Iya, Bu Mika. Terima kasih,” jawab Reca
manja.
“Ehm, tapi sepertinya ada yang terlupa,
apa, ya?” Mika berpikir. “Oh, iya, dandanan kita biasa saja. Masa arisan pakai
baju rumah.”
“Iya,
Mama kalau arisan suka berdandan cantik. Kita juga, dong,” kata Reca.
Mereka lalu ke kamar papa dan mama. Sebentar
saja, Mereka sudah sibuk memoleskan lipstik di bibir dan menabur bedak ke wajah
mereka.
“Kita cantik sekali ya, Kak.” Kata Reca
“Iya, kita seperti model,” tambah Mika.
Padahal wajah mereka belepotan bedak.
Lipstik mereka juga tidak beraturan. mirip topeng monyet.
“Kak, kita harus memakai gaun seperti Mama,”
kata Reca.
Mika hendak membuka lemari gaun mama. Tapi
sayangnya terkunci. “Kita pakai daster mama saja, ya,” usul Mika. Reca hanya
mengangguk.
Sebentar saja mereka sudah memakai daster
mama. Tentu saja daster mama kebesaran di tubuh mereka.
“Kak, kita harus pakai sepatu. Masa pergi
arisan nyeker,” kata Reca.
“Benar juga katamu. Yuk, kita pilih
sepatu Mama,” kata Mika lalu lari ke rak sepatu mama di pojok kamar. Reca tidak
mau ketinggalan memilih sepatu mama.
Mereka lalu kembali ke ruang tengah.
Mereka makan donat dan minum sirup.
“Ya, ampun, apa yang kalian lakukan?”
tiba-tiba Mbak Iyah muncul.
Mika dan Reca terkejut. Ups, donat cokelat Reca jatuh dan terkena
sepatu mama.
“Ayo, diberesin sebelum mama pulang. Nanti
Mama bisa marah, lho.”
“Tapi, Mbak Iyah janji enggak mengadu pada
Mama, ya!” pinta Mika.
“Iya, kita bisa enggak diberi cokelat,”
tambah Reca.
Mbak Iyah tersenyum. “Iya, tapi kalian
bantu Mbak Iyah, ya.
Mereka lalu berbagi tugas. Mbak Iyah
segera mencuci daster mama. Mika membawa cangkir dan kardus donat ke dapur.
Sedangkan Reca menyimpan kembali sepatu mama di rak sepatu.
“Kalian segera mandi sore, sebelum mama
pulang.” Suruh Mbak Iyah.
Mama pulang pukul 7 malam. Mika dan Reca
menyambut gembira. Papa dan Mama membawa Roti Unyil.
“Jangan bilang-bilang ke Mama,” bisik Mika
pada Reca. Reca hanya mengangguk karena mulutnya penuh roti.
“Kayaknya kalian habis bikin acara seru, ya?”
tanya mama.
“Kok mama tau?” tanya Reca spontan.
Mika
terkejut dan menyenggol Reca. “Sudah saya bilang tadi,” Mika melotot pada Reca.
“Ayo, kalian cerita saja,” suruh Mama.
Mika terpaksa cerita. Mama tersenyum
mendengar cerita Mika dan Reka.
“Maafkan kami ya, Ma!” kata Mika.
“Iya, Ma. Jangan hukum kami dengan
membersihkan genteng,” tambah Reca.
“Mama enggak marah, kok. Apalagi kalian
sudah minta maaf dan ikut membereskan
semuanya.
“Kok
Mama bisa tahu? Mama punya ilmu?” tanya Reca lugu.
Hahaha… mama tertawa lalu masuk ke kamar.
Mama keluar lagi sambil membawa sepasang sepatu hijau. “Sepatu ini yang mengadu
pada mama. Karena ada yang menumpahkan cokelat,”
Reca tersipu malu. Ia lupa membersihkan
sepatu mama.
Bambang Irwanto


0 Response to "Siapa yang Mengadu pada Mama"
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.