} Ekor Tupai yang Cantik - Rumah Kurcaci Pos

Ekor Tupai yang Cantik

Salam, Sahabat Kurcaci Pos.
Apa kabar semuanya. Bedah naskah cerita anak di bulan Maret hadir kembali. Kali ini ada cerita  Kak Sari Andriyani yang bercerita tentang ekor tupai yang cantik. Yuk, disimak saja bedah naskahnya dari Kurcaci Pos.

Foto Picpublic


O, iya. Bagi Sahabat Kurcaci Pos yang ingin menyimak bedah naskah sebelumnya, bisa mampir ke link di bawah ini, ya. Klik saja link-nya.  Semoga bermanfaat, salam semangat menulis.

Rubrik Bedah Naskah Cerita Anak Rumah Kurcaci Pos



---------------------------------------------------------------------------------------------

Naskah Sebelum Dibedah : 

Tet... Tet... Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Siswa berhamburan keluar kelas. Maya dan Cika masih sibuk berkemas-kemas di ruang kelas empat.

"Cika, main yuk ke rumahku. Aku punya sesuatu yang sangat cantik,” kata Maya dengan penuh semangat.

"Memang apa May?" tanya Cika penasaran.

"Emm... Aku punya ekor tupai yang sangat cantik,” bisik Maya.

"Hah? Ekor tupai? Kamu memelihara tupai?" tanya Cika kaget.

"Hahaha... Datang aja ke rumahku Cik,” ajak Maya.

" Okey deh kalau begitu,” jawab Cika sembari mengacungkan jempol.
@@@
Pagi ini cuaca sangat cerah. Semua anak kelas empat sedang menanti kedatangan bu guru. Maya dan Cika asyik bercerita tentang ekor tupai.

"Bagaimana Cika, ekor tupai miliku sangat bagus kan?" tanya Maya kepada teman sebangkunya itu.

Belum sempat Cika menjawab datanglah Beno teman sekelas mereka.
"Kamu memelihara tupai May?” tanya Beno heran.

"Iya, masa anak perempuan suka tupai,” datang Rafa teman sebangku Beno.

"Kalian tidak tahu apa yang kami maksud. Ekor tupai miliku memang sangat cantik. Iya kan Cika?" tanya Maya.

"Iya betul. Kalian tidak tahu ya,” jawab Cika.

“Tupai kan mempunyai gigi dan kuku yang sangat tajam. Hi... seram ya Rafa,” balas Beno.

"Iya, akupun takut dengan tupai,” jawab Rafa.

"Kalian ini bicara apa si?" tanya Maya sambil menahan tawa.

"Iya jangan sok tahu,” tambah Cika.

Cika berbisik kepada Maya: "May, ajak saja mereka ke rumahmu. Supaya mereka tahu apa yang sedang kita bicarakan. Hihihi....,” nasihat Maya.

"Baiklah, biar mereka tidak lagi penasaran ya,” bisik Maya.

"Kalian berbisik apa si? Senyum-senyum pula,” tanya Beno penasaran.

"Beno, kamu ingin tahu tidak ekor tupai miliku? Kalau mau, besok main saja ke rumahku bareng Rafa setelah pulang sekolah. Rumahmu kan tidak jauh dari rumahku. Nanti kamu bisa melihat ekor tupai miliku.”
"Baiklah, kami akan main ke rumahmu,” jawab Beno.

@@@
Sepulang sekolah Beno dan Rafa bersiap-siap pergi ke tempat Maya. Tidak lupa mereka berpamitan kepada orang tua masing-masing. Di tengah perjalanan ke rumah Maya, mereka melihat banyak rumah yang menanam bunga. Bunga-bunga itu mekar indah sekali.

Tiba mereka di rumah Maya. Rumah bercat hijau tosca itu memliki taman yang luas di depan rumahnya. Pagar berwarna coklat mengelilingi taman itu. Banyak sekali jenis bunga yang ditanam. Taman itupun penuh dengan rerumputan.

Saat sedang melintasi taman milik Maya, mata Beno tertuju pada segerombol bunga berwarna ungu yang sedang bermekaran. Bunga itu paling unik di antara bunga yang lain. Bunga itu mekar bergerombol, panjang menjuntai.

Maya dan Cika tengah duduk di ruang tamu. Cika melihat kedatangan Beno dan Rafa dari balik jendela.

"Eh, itu ada Beno dan Rafa. Mereka sudah datang. Ayo kita keluar.” Ajak Cika.

"Beno... Rafa... " teriak Maya dan Cika.

Beno dan Rafa menghampiri mereka. Mereka mengobrol di teras rumah. Ibu Maya menemui Beno dan Rafa. Beno dan Rafa bersalaman dengan Ibu Maya. Ibu Maya sangat cantik sama dengan Maya. Tak lama kemudian, Ibu Maya membawa es teh dan kentang goreng yang masih mengepul.

"Ayo, makan dulu anak-anak. Mumpung masih hangat,” kata Ibu.
"Terima kasih bu,” jawab Maya dan teman-temannya.

Mereka makan kentang goreng dengan lahap. Beno bertanya kepada Maya.

"May, di mana tupai milikmu? Kandangnya terbuat dari apa?" Beno bertanya dengan penuh semangat.

"Itu di sana.” jari telunjuk Maya menunjuk jauh ke depan. Ia asik menyeruput es teh.

"Mana, aku tidak melihatnya? Maksudmu di balik pohon itu?" tanya Beno.

"Iya betul. Ayo kita lihat ," ajak Maya.

Maya mengajak Beno, Rafa dan Cika ke tamannya. Ia menuju ke balik pohon mangga.

"Di mana ada tupai, May? Apa sedang bersembunyi?" tanya Beno. Ia sangat penasaran. Kepalanya menengadah ke atas mencari tupai.

"Itu ada di depanmu Beno." kata Maya.

"Hah! Dimana?" jawab Beno ketakutan. Ia takut dirambati tupai.

"Itu Beno, yang warna ungu," jawab Maya sambil menunjuk segerombolan bunga yang tengah mekar.

“Hah, ini kan bunga Maya,” kata Beno.

“Iya, ini memang bunga. Bunga ini jenisnya anggrek ekor tupai,” jawab Maya.

“O... Jadi ekor tupai yang kamu maksud adalah bunga anggrek,” kata Rafa.

“Iya betul. Hehehe... Ekor tupai yang dimaksud itu salah satu nama jenis bunga anggrek. Nama latinnya adalah Rhynchostylis Gigantea. Bunganya menjuntai ke bawah seperti ekor tupai. Oleh sebab itu banyak orang menamainya ekor tupai. Baunya juga harum. Bunga anggrek memiliki jenis yang banyak. Misalnya bunga anggrek monyet, anggrek hitam, dan masih banyak lagi,” jelas Maya.

“Hmmm... Aku kira hewan tupai. Kalau begini ceritanya kita main bola aja ya Rafa,” kata Beno sedikit kesal.

“Maaf ya Beno dan Rafa. Bagaimana kalau kita main congklak saja? Siapa yang menang aku beliin coklat deh,” bujuk Maya.


“Okey, belehlah,” jawab Beno dan Rafa kompak.


---------------------------------------------------------------------------------------

Naskah Setelah Dibedah : 

Tet... Tet... Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Siswa berhamburan keluar kelas. Maya dan Cika masih sibuk berkemas-kemas (ini bisa diperjelas. Misalnya : mengemasi buku dan peralatan sekolah) di ruang kelas empat.

"Cika, main yuk ke rumahku. (dipertegas dengan tanda seru : ke rumahku!) Aku punya sesuatu yang sangat cantik,” kata (bisa juga : ajak) Maya dengan penuh semangat.

"Memang apa May?" ("Memangnya ada apa, May?" tanya Cika penasaran.

"Emm... Aku punya ekor tupai yang sangat cantik,” bisik Maya.

"Hah? Ekor tupai? Kamu memelihara tupai?" tanya Cika kaget.

"Hahaha... Datang aja ke rumahku Cik,” ajak Maya.

"Okey deh kalau begitu,” ("Okey deh, kalau begitu!) jawab Cika sembari mengacungkan jempol.

@@@

Pagi ini cuaca sangat cerah. Semua anak kelas empat sedang menanti kedatangan bu guru (perjelas saja ini dengan menambah nama gurunya. misalnya Bu guru Nuraini. Maya dan Cika asyik bercerita tentang ekor tupai.

"Bagaimana Cika, ekor tupai miliku sangat bagus kan?" tanya Maya kepada teman sebangkunya itu.

Belum sempat Cika menjawab datanglah (beri koma : menjawab, datanglah) Beno teman sekelas mereka.

"Kamu memelihara tupai May?” (beri koma sebelum nama tokoh, biar ada penegasan bertanya pada tokoh. kalau tidak ada koma, kesannya memelihara tupai bernama atau berjenis May : "Kamu memelihara tupai, May?") tanya Beno heran.

"Iya, masa anak perempuan suka tupai,” datang Rafa teman sebangku Beno.

"Kalian tidak tahu apa yang kami maksud. Ekor tupai miliku memang sangat cantik. Iya kan Cika?" (Iya, kan, Cika?") tanya Maya.

"Iya betul. Kalian tidak tahu ya,” jawab Cika.

“Tupai kan mempunyai gigi dan kuku yang sangat tajam. Hi... seram ya Rafa,” balas Beno.

"Iya, akupun (ini dipisah : aku pun) takut dengan tupai,” jawab Rafa.

"Kalian ini bicara apa si?" (sih) tanya Maya sambil menahan tawa.

"Iya jangan sok tahu,” tambah Cika.

Cika berbisik kepada Maya: (di sini bukan titik dua, tapi koma : kepada Maya, "May,) "May, ajak saja mereka ke rumahmu. Supaya mereka tahu apa yang sedang kita bicarakan. Hihihi....,” nasihat  (saran atau usul)Maya.

"Baiklah, biar mereka tidak lagi penasaran ya,” bisik Maya.

"Kalian berbisik apa si? Senyum-senyum pula,” tanya Beno penasaran.

"Beno, kamu ingin tahu tidak ekor tupai miliku? Kalau mau, besok (Ini biar nyambung dengan alur berikutnya, ganti saja dengan : nanti sepulang sekolah. kalau besok, kan esok harinya) main saja ke rumahku bareng Rafa setelah pulang sekolah. Rumahmu kan tidak jauh dari rumahku. Nanti kamu bisa melihat ekor tupai miliku.”

"Baiklah, kami akan main ke rumahmu,” jawab Beno.

@@@

Sepulang sekolah Beno dan Rafa bersiap-siap pergi ke tempat Maya. Tidak lupa mereka berpamitan kepada orang tua masing-masing. Di tengah perjalanan ke rumah Maya, mereka melihat banyak rumah yang menanam bunga. Bunga-bunga itu mekar indah sekali.

Tiba mereka di rumah Maya. Rumah bercat hijau tosca itu memliki taman yang luas di depan rumahnya. Pagar berwarna coklat (cokelat) mengelilingi taman itu. Banyak sekali jenis bunga yang ditanam. Taman itupun (Ini dipisah : itu pun) penuh dengan rerumputan.

Saat sedang melintasi taman milik Maya, mata Beno tertuju pada segerombol bunga berwarna ungu yang sedang bermekaran. Bunga itu paling unik di antara bunga yang lain. Bunga itu mekar bergerombol, panjang menjuntai.

Maya dan Cika tengah duduk di ruang tamu. Cika melihat kedatangan Beno dan Rafa dari balik jendela.

"Eh, itu ada Beno dan Rafa. Mereka sudah datang. Ayo kita keluar.” (pakai tanda seru : kita keluar!") Ajak Cika.

"Beno... Rafa... " teriak Maya dan Cika.

Beno dan Rafa menghampiri mereka (Maya dan Cika). Mereka mengobrol di teras rumah. Ibu Maya menemui Beno dan Rafa. Beno dan Rafa bersalaman dengan Ibu Maya. Ibu Maya sangat cantik sama dengan Maya. Tak lama kemudian, Ibu Maya membawa es teh dan kentang goreng yang masih mengepul.

"Ayo, makan dulu anak-anak. Mumpung masih hangat,” kata Ibu.

"Terima kasih bu,” ("Terima kasih, Bu!") jawab Maya dan teman-temannya.

Mereka makan kentang goreng dengan lahap. Beno bertanya kepada Maya. (Ini tidak perlu dan bisa dihapus saja, karena setelah ini, saat Beno bertanya, ada keterangan yang sama.)

"May, di mana tupai milikmu? Kandangnya terbuat dari apa?" Beno bertanya dengan penuh semangat.

"Itu di sana.” jari telunjuk Maya menunjuk jauh ke depan. Ia asik menyeruput es teh.

"Mana, aku tidak melihatnya? Maksudmu di balik pohon itu?" tanya Beno.

"Iya betul. Ayo kita lihat ," ajak Maya.

Maya mengajak Beno, Rafa dan Cika ke tamannya. Ia menuju ke balik pohon mangga.

"Di mana ada tupai, May? Apa sedang bersembunyi?" tanya Beno. Ia sangat penasaran. Kepalanya menengadah ke atas mencari tupai.

"Itu ada di depanmu Beno." kata Maya.

"Hah! Dimana?" (Ini dipisah : di mana) jawab Beno ketakutan. Ia takut dirambati tupai.

"Itu Beno, yang warna ungu," jawab Maya sambil menunjuk segerombolan bunga yang tengah mekar.

“Hah, ini kan bunga Maya,” (itu kan bunga, Maya!") kata Beno.

“Iya, ini memang bunga. Bunga ini jenisnya anggrek ekor tupai,” jawab Maya.

“O... Jadi ekor tupai yang kamu maksud adalah bunga anggrek,” kata Rafa.

“Iya betul. Hehehe... Ekor tupai yang dimaksud itu salah satu nama jenis bunga anggrek. Nama latinnya adalah Rhynchostylis Gigantea. Bunganya menjuntai ke bawah seperti ekor tupai. Oleh sebab itu banyak orang menamainya ekor tupai. Baunya juga harum. Bunga anggrek memiliki jenis yang banyak. Misalnya bunga anggrek monyet, anggrek hitam, dan masih banyak lagi,” jelas Maya. (Ini bisa diubahmenjadi kalimat tak langsung saja :
"Iya, betul!" jawab Maya sambil terkekeh.
Maya pun menjelaskan kepada Beno dan Rafa. Jadi Ekor Tupai yang ia maksud adalah....)


“Hmmm... Aku kira hewan tupai. Kalau begini ceritanya kita main bola aja ya Rafa,” kata Beno sedikit kesal.  (perhatikan penggunaan tanda baca, agar maksud kalimatnya jelas : "Hmmm, aku kira hewan tupai. Kalau begini ceritanya, mending kita main bola saja ya, Rafa,"

“Maaf ya Beno dan Rafa. Bagaimana kalau kita main congklak saja? Siapa yang menang aku beliin coklat (cokelat) deh,” bujuk Maya.

“Okey, belehlah,” (Typo) jawab Beno dan Rafa kompak.

-------------------------------------------------------------------------------

Catatan dari Kurcaci Pos :

Salam, Kak Sari. ide ceritanya bagus. alurnya sudah pas, endingnya seru, karena twist ending. jadi pembaca mengira endingnya memang Maya memelihara tupai, ternyata angrek ekor tupai.


Hanya saja, cerita di atas, tidak ada konfliknya. Hanya bercerita tentang info bunga anggrek ekor tupai. Padahal harus dimasukkan konflik yang sesuai. Nah, konflik inilah yang akan diselesaikan dalam cerita, sedangkan anggrek ekor tupai hanya sebagai info saja atau sumber konflik.

Misalnya, konflik yang bisa dimasukkan adalah : Beno dan Maya musuhan, gara-gara ekor tupai yang cantik itu.

konflik lain yang bisa ditarik ulur misalnya, Maya merengek-rengek minta dibelikan bunga naggrek ekor tupai, tpai ternyata, dia malas merawatnya. Akhirnya hampir mati. Nah, bagaimana cara Maya agar tanamannya subur lagi. dan masih banyak konflik lainnya.


Cerita ini bisa dibuat lebih seru lagi. caranya, Kamera ceritanya itu bisa dari Beno. Jadi segala sesuatu yang terjadi dalam cerita, itu dari sudut si Beno.

Misalnya, saat istirahat, Beno melihat Maya dan Cika berbisik-bisik. Beno penasaran dan sempat mendengar dan mengira, kalau Maya memelihara tupai yang ekornya cantik. makanya Beno langsung melarang Maya memelihara tupai, karena berbahaya.  Tapi Maya malah ngotot juga, kalau ia memang suka memeliharanya.

Nah, Beno akhirnya diam-diam mau menyelidiki. Sepulang sekolah, ia sengaja diam-diam ke rumah Maya. Beno diam-diam mengintip rumah Maya. Tapi kok tidak ada tupai di halaman rumah Maya. kandangnya juga tidak ada. Beno yakin, Maya sudah tahu kedatangannya. Makanya Maya sengaja menyembunyikan tupainya.

Nah, besoknya, Beno menghampiri Cika. Ia cerita dan bertanya lagi pada Cika, mengenai tupai Maya. Cika malah terbahak. Tentu saja Beno bingung. Akhirnya Cika berencana mengajak Beno main ke rumah Maya.

Akhirnya Beno dan Cika main ke rumah Maya. Sampai akhirnya endingnya, Beno tahu yang dimaksud Maya adalah bunga anggrek ekor tupai. Beno pun minta maaf, karena kemarin salah duga dan malah menganggap Maya tidak tahu terima kasih karena sudah diingatkan tidak memelihara tupai.

Masih banyak penggunaan tanda baca yang kurang pas, Kak Sari. Jadi perhatikan lagi, kapan titik, kapan koma, jadi intonasinya jelas.

Satu lagi, perhatikan penggunaan partikel 'PUN'. Kak Sari saat menggunakan partikel PUN, semua disambung. Padahal hanya ada 12 kata yang disambung penulisannya, lainnya dipisah.
Yang disambung adalah : adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, mauupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.


Demikian bedah naskah dari Kurcaci Pos, Kak Sari. Semoga bermanfaat dan terus semangat menulis.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ekor Tupai yang Cantik"

Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.