“Kak, kuenya belum habis, ya?” tanya Riri pada Kak Rara yang berjalan di sampingnya. Tadi mereka habis numpang jualan sambil menunggu hujan reda di depan sebuah mini market.
Rara mengangguk. “Iya. Kita lanjut jualan lagi, ya!
Biar Ibu tak sedih.”
Riri mengangguk mengerti. Ia memang sering melihat ibu
diam-diam menghapus air mata bila jualan tak habis. Padahal,membuat kue putu
cangkir itu tidak mudah. Agar kuenya enak, ibu pergi menggiling beras di pasar
setiap pagi.
Sudah lama Riri
ingin ikut Kak Rara berjualan. Tapi kakaknya yang kelas 6 SD itu melarangnya. Tapi
hari ini Riri bersikeras ingin ikut. Apalagi ini hari minggu, dan besok tanggal
merah. Riri sangat bersemangat. Walau tadi saat mau berangkat hujan turun.
“Kalau kamu capek, istirahat dulu di pos ronda itu yuk!
Atau kamu pulang saja, nanti kakak lanjut jualan.”
“Kita duduk sebentar saja di pos ronda, Kak!”
Rara dan Riri pun duduk di pos ronda, Tidak lama
seorang ibu lewat.
“Bu, kue putu cangkirnya, Bu!’ Rara menawarkan kue jualannya.
| Foto : Kabar Gowa |
Ibu itu menoleh. “Eh..kue putu cangkir? Kue seperti
apa itu?”
“Ini jajanan khas makassar, Bu . Modelnya seperti
tataan cangkir terbalik. Dari tepung
beras dicampur gula merah. Ada isian kelapa parut. Harganya satu dua ribu
rupiah, Bu,” Rara menjelaskan.
“Ibu coba satu dulu, ya!” kata ibu itu sambil memakan
putu cangkir.
Riri menunggu dengan harap cemas. Ia berharap ibu itu
membeli
“Ehm enak. Cocok
nih, buat minum teh. Beli 5 lagi ya. Jadi sama tadi 6, ya!”
Rara tersenyum senang lalu membungkus lagi 5 biji putu
cangkir. Ibu itu lalu membayar 12 ribu.
“Alhamdulillah. Kita ke taman di komplek depan, yuk! Biasanya
banyak anak bermain sore hari! Ajak Rara.
Riri mengangguk. Mereka pun bergegas ke lapangan
komplek. Benar saja, di sana banyak anak bermain. Beberapa permainan juga
tersedia. Mereka lalu duduk di bangku taman.
“Ri, sana kalau kamu mau main ayunan. Kakak tunggu di sini!”
Riri mengangguk lalu berlari. Walau ada 3 ayunan, tapi
dia harus sabar mengantre.
“Riri, kamu main di sini juga?”
Riri menoleh dan melihat Gita teman sekelasnya. “Aku
sama kakakku sambil jualan putu cangkir,” kata Riri tak malu lagi.
“Putu cangkir? Kue apa itu?”
Riri lalu mengajak Gita menemui Kak Rara. Riri lalu memperlihatkan
kue cangkir dalam keranjang.
“Kayaknya enak, ya! Tapi aku ga bawa uang.”
“Ayo, coba saja! Gratis kok!” Kak Rara memberikan satu
biji kue putu cangkir pada Gita.
Riri terkejut. “Kak, kok diberi gratisan. Nanti kita rugi,”
bisik Riri.
“Tidak apa-apa. Kan promosi dulu. Tadi juga sudah laku
5 biji lagi.”
“Gita.. Tante Eza datang. Pulang yuk! Seorang ibu
memnghapiri Gita. “Eh, kamu makan apa?”
“Kue putu cangkir, Ma, dikasih kakaknya Riri. enak
lho, Ma. Beli buat Tante Eza, Ma!
“Wah, kue putu cangkir! ini kue kesukaan mama waktu kecil
pas tinggal di Makassar. Dulu cetakannya pakai batok kelapa, tapi sekarang
corong kecil.”
Mama Gita lalu mencoba 1 putu cangkir. “Wah, enak
sekali. Di Depok kayaknya belum ada yang jual. Tante borong semua, ya!”
“Terima asih banyak, Tante,” ucap Rara dan Riri hampir
bersamaan.
Wah Riri senang
sekali. Besok dia akan semangat jualan lagi. Riri berharap, semoga Kue Putu Cangkir selalu
habis sore hari.

Sebuah kisah yang menginspirasi Bagaimana perjuangan seorang anak yang berjualan Putu cangkir khas Makassar yang mungkin belum banyak orang tahu dan mengenal rasanya dan ini sangat mengharukan ketika kue laku sang penjual pun akan semakin semangat berjualan kadang perbuatan kecil seperti membeli kue bisa memberikan semangat yang sangat berharga
ReplyDeleteAduuh, kerennyaaaa jiwa wirausaha udah melekat pada tokoh utama kitaaaa.
ReplyDeletePantang menyerah
Jago marketing
punya skill gimana cara memperkenalkan kuliner tradisional, di tengah gempuran ke-FOMO-an masyarakat akan makanan viral.
Daebak!
Semoga kue putu cangkir selalu habis terjual agar riri dan rara tidak sedih lagi saat membawa sisa kue ke rumah dan ibu bisa tersenyum bahagia ;)
ReplyDeleteduhh baca ini aku jadi sedih bayangin perjuangan anak2 hebat ini yang rajin membantu sang ibu
Selain ceritanya yang ngena ke hati, saya juga jadi tahu kalau ada makanan namanya Putu Cangkir ini Mas Bams.
ReplyDeleteIn the real life, kasus anak-anak jualan seperti dalam cerita 'Semoga Putu Cangkir Selalu Habis Sore Hari' selalu ada. Mereka kuat dan didewasakan oleh waktu untuk membantu orang tuanya.
Terima kasih Mas Bams untuk cerita hangatnya :)
Wah. Riri dan Rara semangat jualannya. Mana udah ngerti promosi pula. Tapi, dengan begitu calon pelanggan mereka jadi tahu kalau kue putu cangkirnya enak dan malah borong nggak tuh. Jadi, ibu mereka nggak sedih lagi deh. Soalnya, kue putu cangkirnya sudah laris manis nggak bersisa. Semoga besok-besok jualan kue putu cangkirnya juga laris manis ya, adek-adek. Hehehe....
ReplyDeleteAlhamdulilah, ini the power of sedekah yaa. Setelah ngasih 1 kue malah ada yang memborong semua kue.
ReplyDeleteSaya baru pertama kali lihat kue putu cangkir. Ternyata beda dengan putu bambu yang di Jawa.
Ikut senang buat Rara dan Riri yang kuenya habis terjual
ReplyDeleteAlhamdulillah walaupun di tengah kecanggihan kota Depok, masih ada pengolahan kue tradisional Makassar ya. Hemm... Jadi pengen mencobanya juga
Rezeki yaa alhamdulillah. Emang kalau lama merantau trus ketemu makanan khas daerah di tanah rantau biasanya akan beli sih. Tombo kangen, kalau kata orang Jawa.
ReplyDeleteAku baru tahu ada kue putu cangkir Pak Bambang, tahunya selama ini putu ayu aja hehe :D
Jadi penasaran kan rasanya kek gimana? :D
Dari tepung beras dan gula merah lalu ada isian kelapanya? Hmmm bentar2 ini, kek wingko babat bukan sih pak? Apa berbeda ya?
Tante, kok borong semua kuenya? Daku belum kebagian nih kue putu cangkirnya, soalnya kan kepingin juga mencicipi kue khas nikmat ini hihi.
ReplyDeleteCiamik Pak Bams kisah Riri dan Rara yang bisa memberikan banyak inspirasi
Masya Allah, serasa bernostalgia. Kalau ingat kue Putu cangkir jadi ingat kawan seperjuangan dulu, sama-sama anak rantau yang berjuang di Borneo. Beliau suka sekali membawakan kue ini untuk sulung, sering mengajak main kalau klinik sedang tidak ramai, al fatihah untuk almarhumah Kak Nur (malah jadi melow).
ReplyDeleteAku baru tahu Mas Bams ada kue putu cangkir....
ReplyDeleteNamanya jajanannya unik. Mirip sama tatakan cangkir yang kebalik. Jenisnya kue basah ya .. ternyata pas googling bentuknya lucu-lucu ya..
Ahh, ceritanya menyentuh. Anak² yang menjajankan jajanan kelak akan menghargai arti perjuangan itu. 🥰
Wah, saya juga mau dong kue putu cangkir. Hihi. Beneran jadi penasaran sama makanan tradisional khas Makassar ini. Semoga dagangannya laris selalu ya Dek Riri dan Rara, di tengah gempuran dessert cake, kue-kue tradisional gini bikin kangen dan nostalgia banget.
ReplyDeleteWaah ngasih satu malah jajanan diborong abis. Berkah banget kak Rara dan Riri. Smg dagangannya selalu laris ya. Inget ngebantu ibu yg bikin trenyuh hatiku kalo jajanan ga abis tuh.
ReplyDeleteAnak2 hebat nih. Udh ngebantu orgtua buat jualan. Smg jd anak sukses ya kalian berdua.
Kue putu cangkir ini memang jarang di daerah lain ya, tapi rasanya saya pernah makan dan enak. Semoga jualan Riri dan Rara laris manis biar ibunya nggak sedih. Sebuah potret kehidupan masyarakat bawah yang harus berjuang untuk menyambung hidup sehari-hari. Bahkan anak sekecil itu sudah pandai membantu ibunya.
ReplyDeleteAh Riri... aku suka sama Putu Cangkiri' lho
ReplyDeleteKapan kapan lewat depan rumahku saja di Surabaya
Pasti laku keras sama aku hehe
Nice cerita Om Bams
Jadi kangen Makassar
Seringkalii.. jualan sekali dua kali kalau belum laku tuu.. bikin sedih sehingga ga bersemangat buat melanjutkan jualan.
ReplyDeleteTapiii kak Rara dan Riri mashaAllah...tetap semangat dan semua usahanya demi sang Ibu. Dengan niat baik ini, dagangan jadi lariiss maniiss..
Lucu bangeettttt ceritanya, jadi keinget scene di film nusa rara, hihihi.
ReplyDeleteSaya harap anak saya kelak punya jiwa sales kayak gini si, pinter melihat situasi dan menawarkan barang atau jasa. Karena sebenarnya jual beli itu basic skill of life, hihihi