} Si Edong - Rumah Kurcaci Pos

Si Edong

 Edong melihat ke sekeliling. Suasana sudah ramai. Upacara adat Mapasilaga Tedong atau adu kerbau di Tana Toraja Sulawesi Selatan akan segera dimulai. Edong dan puluhan kerbau jenis tedong pudu lainnya sudah berbaris rapi.

cerita anak bambang irwanto


     “Kamu gelisah sekali, Edong?” tanya Dongki yang berdiri di samping Edong.

      Edong mengangguk. Ini memang pertama kalinya dia ikut upacara ini.

     “Lawanku nanti kan, si Oming juara tahun lalu.”

     “Jangan lupa obrolan kita kemarin!”

      Edong hanya mengangguk ragu.

      Tidak lama, Edong dan kerbau lainnya mulai diarak. Orang-orang memainkan gong, dan juga membawa umbul-umbul. Suasana semakin meriah.

      “Siapa yang menumbuk lesung itu, Dongki?” tanya Edong. Dongki memang sudah dua kali ikut upacara Mapasilaga Tedong.

     “Oh, mereka itu keluarg dari orang yang meninggal. Upacara ini kan, untuk menghormati orang yang meninggal, sebelum acara inti, yaitu upacara Rambu Solo,” jelas Dongki.

      Edong mengangguk mengerti.

      Setelah diarak, Edong dan kerbau-kerbau lainnya pun kembali dibariskan di pinggir sawah berlumpur. Edong semakin gelisah menunggu giliran bertarung. Tampak Oming berdiri pongah.       

       Akhirnya, tiba giliran Edong. Dengan ragu, dia berjalan menuju sawah yang berlumpur. Oming sudah duluan berada di sana.

    “Jangan berharap menang melawanku,” ucap Oming sombong.

     Edong diam saja. Walau hatinya berdebar, Edong memilih tenang. Dia berusaha mengingat obrolannya dengan Dongki, dan apa saja yang telah diajarkan Pak Mandung padanya.

     Edong melihat Oming berlari ke arahnya dengan nafsu. Edong pun bersiap menerima serangan dari Oming.

     Buukkk tanduk Oming menubruk tanduk Edong. Edong sedikit mundur, tapi tidak sampai terjatuh. Tampak Oming kembali mengambil ancang-ancang untuk menyerang Edong.

     “Jangan bergaya kamu! Sebentar lagi kamu akan kalah!” ucap Oming lalu kembali menyerang Edong.

       Buuuukkkk... tanduk Edong dan Oming kembali beradu. Sorak-sorai penonton dari pinggir sawah, membuat Oming semakin bernafsu menyerang Edong. Edong sedikit terdesak.

       “Ayo... Edong! Kamu bisa!”

        Edong mendengar suara Dongki memberi semangat. Edong pun mengingat apa yang diajarkan Pak Mandung, agar Edong melihat kelemahan lawan.

        Edong mundur sejenak lalu memperhatikan Oming. Badan Oming besar dan kuat. Tanduknya juga kokoh. Tapi Tanduk Oming kan, sering digunakan, pasti pernah luka, gumam Edong memperhatikan tanduk Oming dengan seksama.

       “Ya.. kini aku tahu!” sorak Edong. Setelah mengambil ancang-ancang, Edong lalu berlari menyerang Oming.

       Buukkk.... Edong menanduk tanduk Oming yang sebelah kiri. Kabarnya, walau menang tahun lalu, tapi tanduk Oming agak retak saat bertarung dengan Redong.

       Oming mundur beberapa langkah. Sepertinya Oming tidak siap dengan serangan Edong yang tiba-tiba. Edong pun kembali menyerang Oming, sebelum Oming benar-benar siap.

        Buuukkk... sekali lagi Edong menanduk tanduk sebelah kiri Oming. Kali ini Oming terjatuh. Edong kembali akan menyerang Oming. Daaaan....
       “Hore Oming kabur! Edong Menang!” teriak Dongki.

        Penonton bersorak-sorai. Edong berjalan dengan bangga menghampiri Dongki.

        “Nah, benar kan. Jangan takut pada sesuatu. Percaya pada diri sendiri!” ucap Dongki sama seperti obrolan semalam.

       “Iya, terima kasih, Dongki. Mulai sekarang, aku akan lebih percaya diri lagi.”

 Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Si Edong"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.