} Mochi-Mochi Cicci - Rumah Kurcaci Pos

Mochi-Mochi Cicci

Mochi Cicci - Cerita Anak -  Cerpen - Cicci Paricci adalah seorang anak perempuan yang manis dan lincah. Ia suka sekali memakai baju merah dan rambutnya dikepang dua. Cicci tinggal bersama Ayah, Ibu dan neneknya di kaki gunung Fuji.

Setiap hari rabu Cicci ikut ibunya, Bu Rika  ke pasar. Pasar itu hanya ada seminggu sekali. Mereka berjalan kaki menuju ke sana. Selama perjalanan, Cicci bersenandung riang.

Dimuat di Majalah Bobo 

Sampai di pasar, Bu Rika dan Cicci segera membeli kebutuhan sehari-hari. Sebentar saja, keranjang mereka sudah penuh. Ada beras. Sabun mandi, bumbu dapur dan lain sebagainya.

“Ci, apa lagi yang belum kita beli?” tanya Bu Rika sambil meneliti kembali isi keranjang.

Cicci ikut melongok isi keranjang. “O iya, Bu, kita belum membeli bahan-bahan membuat kue Mochi. Lusa kan, Ayah ulang tahun.”

“Anak pintar,” puji Bu Rika.

Mereka bergegas menuju toko Baba Liong, toko yang paling lengkap di pasar Itu. Hari itu pembeli cukup banyak. Bu Rika dan Cicci harus bersabar menunggu giliran dilayani oleh Baba Liong.

“Bu Rika mau beli apa?” tanya Baba Liong.

Bu Rika menyebutkan bahan-bahan untuk membuat kue mochi. Baba Liong dengan sigap memasukkan tepung ketan, tepung kanji, gula pasir dan kacang india.
Setelah membayar, Bu Rika dan Cicci pulang ke rumah.

Sampai di rumah, Cicci memeriksa lagi barang-barang belanjaan. Tidak lupa ia menimbang kembali bahan-bahan kue yang tadi  dibeli di toko Baba Liong.

“Bu, kenapa timbangan bahan-bahan kue mochi semuanya kurang satu ons?” tanya Cicci heran.

“Ibu sudah tahu, Ci! Memang sejak dulu timbangan Baba Liong tidak pernah pas.”

“Ya, enggak boleh begitu dong, Bu!” Baba Liong harus pas menimbang barang-barang yang dijual di tokonya,” tukas Cicci.

“Yah, mau bagaimana lagi, hanya dia satu-satunya yang menjual bahan-bahan kue di pasar.”

“Nenek tahu bagaimana caranya?” Tiba-tiba Nenek muncul.

 “Bagaimana caranya, Nek?” tanya Cicci penasaran.

Nenek lalu menjelaskan rencananya pada Bu Rika dan Cicci. Mereka setuju dengan rencana Nenek itu.

Keesokan harinya, Cicci pergi ke toko Baba Liong. Tidak lupa ia membawa beberapa keranjang kecil kue mochi.

“Selamat siang Baba Liong!” sapa Cicci sopan

“Selamat siang. Ada apa, Ci?” tanya Baba Liong melihat kedatangan Cicci.

“Saya membawa kue mochi untuk Baba Liong, ”Cicci menyerahkan keranjang kue

 “Wow, kue mochi isi kacang kesukaanku.Terima kasih ya, Ci!” ucap Baba Liong.

“O iya, besok Ayah akan berulang tahun. Ayah dan Ibu mengundang Baba untuk minum teh.”

Baba Liong mengangguk. “Besok Baba akan datang ke rumahmu.”

Besok sorenya, Baba Liong datang ke rumah Cicci. Ayah Cicci mempersilakan Baba Liong masuk. Mereka duduk melingkar mengelilingi meja bundar besar. Di atas meja tampak kue mochi dan seteko teh panas. Asapnya masih mengepul-ngepul keluar dari teko.


“Ayo, dicoba Baba Liong! Saya yang membuat kue mochi itu,” Nenek Cicci mempersilakan Baba Liong.

Baba Liong mengigit sebuah kue Mochi. Wajahnya langsung berubah.

“Kenapa, Baba?” tanya Nenek Cicci khawatir.

“Kue mochi ini tidak enak. Keras dan tidak manis,” Jawab Baba Liong tanpa basa-basi.

Cicci ikut mencoba kue mochi buatan Nenek. “Benar, kue moci ini tidak enakl. Oh, Nenek yang membuatnya, ya?”
   
“Sepertinya kurang tepung ketan dan gula?” tambah Ibu Cicci.


“Ah, tidak mungkin. Aku sudah membuat sesuai resep yang ada. Kecuali kalau timbangan bahan-bahan itu memang kurang, maka hasil kue mochinya akan berbeda pula” sergah Nenek Cicci.

Tampak wajah Baba Liong langsung merah padam menahan malu. Sepertinya Baba Liong mengingat-ingat, kalau kemarin Cicci dan Bu Rika membeli bahan-bahan kue mochi itu di tokonya.

Nenek Cicci bangkit, lalu buru-buru masuk ke kamarnya sambil menangis. Sepertinya Nenek sedih sekali.

Cicci melirik Baba Liong. Wajah Baba Liong semakin merah padam menahan malu. Tidak berapa lama, Baba Liong buru-buru pamit. Nenek keluar dari kamar sambil tersenyum.


“Mudah-mudah rencana kita berhasil ya, Nek! Semoga Baba Liong sadar untuk tidak lagi mengurangi timbangan barang jualannya.

Nenek Cicci terkekeh. “Bagaimana akting Nenek tadi?”

“Sangat bagus, Nek! Nenek bisa jadi pemain opera,” puji Cicci.

"Saatnya menikmati kue mochi yang enak," ucap Ibu sambil meletakan sepiring kue Mochi di atas meja.

Semua tertawa mendengar ucapan Cicci.

Cerita Bambang Irwanto
Cerita Anak - Cerpen - Dimuat di Majalah Bobo                                                               

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Mochi-Mochi Cicci"

  1. Ini masuk kategori cerpen realis atau fantasi, Mas? karena nama tokohnya Cicci Paricci, seperti nama tokoh fantasi .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini cerpen realis sih, Mbak Linda.
      Soalnya settingnya sehari-hari.
      Soal nama tidak masalah.
      Kalau fantasi itu, dari settingnya juga atau kejadiannya, Mbak.

      Delete
    2. Ooh karena tokohnya juga manusia biasa, ya..?
      Kalau kurcaci, itu masuknya fantasikah?

      Delete
    3. bisa disesuaikan, Mbak Linda. Kalau tokohnya kurcaci tapi settingnya biasa, maka dongeng. Tapi kalau tokohnya kurcaci dan setting di luar kehidupan sehari-hari atau sekarang, sudah masuk fantasi.

      Delete
  2. Pak Bambang, cerita ini dimuat desember ini kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, Mbak Fitri.
      Ini cerita dimuat sekitar tahun 2011 di majalah Bobo.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.