} Sama-Sama Norak - Rumah Kurcaci Pos

Sama-Sama Norak

Cerpen - Cerita Anak - Kereta api Sawung Galih tujuan  Kutoarjo, akhirnya tiba juga. Aku segera masuk ke dalam gerbong satu, lalu bergegas mencari nomor tempat duduk yang tercantum di tiketku

”Itu Ma, nomer 8A dan 8B!” tunjukku sambil menaruh tas di tempat  penyimpanan barang yang berada di atas tempat duduk.

Dimuat di Kompas Anak Minggu 

Berlahan-lahan kereta api mulai bergerak meninggalkan stasiun Jatinegara, menuju  rumah Nuning di kota kebumen Jawa Tengah.

O, iya! Nuning itu sahabat penaku. Sudah satu tahun kami bersahabat. Umurnya 10 tahun, sama dengan umurku. Kami juga sama-sama kelas IV SD. Wajah Nuning manis. Kulitnya sawo matang. Rambutnya panjang sepinggang dan sering dikepang dua.

Tiga bulan lalu, Nuning ke Jakarta. Tentu saja aku senang sekali. Itu adalah pertemuan pertama kami. Aku ajak Nuning keliling kota Jakarta.

Nuning itu norak sekali. Ia selalu terkagum-kagum bila melihat sesuatu sambil melompat-lompat kesenangan. Misalnya waktu melihat Monas. atau waktu pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Ih, malu-maluin banget!

Tapi ada satu pengalaman yang lucu sekaligus membuatku malu. Aku ingat sekali. Waktu itu aku mengajak Nuning ke sebuah Mal. Kami kesana naik busway. Wah, dalam perjalanan, Nuning tidak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat gedung-gedung tinggi.

Nuning sangat terkejut, ketika melihat pintu mal terbuka sendiri. Kepala Nuning pusing, waktu naik lift. Nuning juga takut naik eskalator. Nuning kebingungan ketika aku ajak masuk ke dalam foto  box. Rupanya ia heran melihat kotak yang bisa foto sendiri. Hehe....

Sebelum pulang, aku ajak Nuning makan ke MC Donald. Waktu aku tanya ia mau makan apa, eh si Nuning dengan lugunya menjawab, malah ingin makan tempe atau tahu. Waduh, si Nuning memang memang norak banget!

”Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Mir?” tanya Mama.

”Mirna ingat Nuning waktu ke Jakarta, Ma!” jawabku. ”Waktu itu, Nuning norak sekali. Bahkan kadang malu-maluin.”

”Kamu nggak boleh gitu! Nuning kan baru pertama kali ke Jakarta. Ia baru merasakan hal-hal yang baru,” Mama menasihatiku. ”Mungkin saja, kamu akan mengalami hal yang sama seperti Nuning.”

Aku tertawa kecil. ”Mana mungkin, Ma! Mirna kan anak kota, sedangkan Nuning anak desa. Mirna sudah terbiasa melihat segala sesuatu yang moderen dan canggih. Mirna tidak akan senorak Nuning.”

”Ya, sudah! Kita lihat saja nanti!” Mama meneruskan membaca majalahnya.

Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam, akhirnya kami tiba di Stasiun kebumen. Rupanya Nuning sudah menanti kedatanganku. Ia datang bersama bapaknya dan pakliknya.

”Rumahmu masih jauh, Ning?” tanyaku.

”Endak jauh kok! Cuma setengah jam lagi.” jawab  Nuning dengan logat jawanya yang kental.

”Kita ke sana naik apa?” tanyaku lagi.

Nuning tersipu malu. ”Naik Delman saja, ya! Kebetulan Paklikku kusir Delman. Jadi gratis, endak bayar. Endak apa-apa kan?”

”Oh, nggak apa-apa, Ning! Aku malah senang banget. Sekarang aku jarang naik Delman. Dulu sih, sering kalau ke Monas. Tapi sekarang delman udah dilarang berada di Monas.”

Delman yang kami tumpangi meninggalkan Stasiun Kebumen. Tak tik tak   tuk tak tik tuk bunyi suara sepatu kuda, mengiringi perjalanan kami. Sama seperti syair lagu anak-anak yang diajarkan Mama padaku.

”Wah, indah sekali pemandangannya!” seruku kegirangan saat kami melewati jalanan desa. Sawah-sawah terlihat hijau. ”Lihat Ma, gunung itu! Tinggi menjulang. Eh, ada kabutnya!”

”Itu belum seberapa, Mir! Di sebelah selatan desaku nanti, ada sungai dengan air terjunnya yang indah. Kita bisa mandi di sana sambil mencari ikan,” kata Nuning.

”Wah, aku sudah tidak sabar lagi, Ning!”

”Nanti Bapak ajak Nak Mirna naik ke gunung itu,” kata Bapaknya Nuning. ”Pemandangan dari atas gunung itu lebih indah, Nak! Nak Mirna mau?”

”Mau, mau banget, Pak!” jawabku antusias.

Delman terus melaju. Nuning dan bapaknya terus  bercerita tentang keindahan desanya. Aku semakin terkagum-kagum. Di kota Jakarta, mana ada pemandangan seindah pemandangan di desa. Udaranya juga masih segar dan alami.

Mama menyikut lenganku. Aku menoleh pada Mama yang sedang tersenyum misteri.

”Kenapa Mama senyum-senyum sendiri?” tanyaku penasaran.

”Kamu norak sekal!” bisik Mama di telingaku.

A...ha...! Benar kata Mama. Aku sama saja seperti Nuning. Terkagum-kagum waktu pertama kali melihat sesuatu. Berarti...kami sama-sama norak, dong? Hehehe...


Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Sama-Sama Norak"

  1. Ini waktu Kompas Anak masih ada, ya? sedih sekali.. sekarang sudah tak ada, kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Linda.
      Padahal Kompas Anak Minggu salah satu favorit saya. Naskah selalu ada balasan. Honornya juga gede hehehe.

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih, Mbak Dewi.
      Semoga ceritanya bisa menginspirasi.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.