} Bedah Naskah Cerita Anak - Zha Putri Cantik Bermata Empat - Rumah Kurcaci Pos

Bedah Naskah Cerita Anak - Zha Putri Cantik Bermata Empat

Salam, SaKurPos

Jumpa lagi dengan Kurcaci Pos di rubrik Bedah Naskah Cerita Anak. Kali ini ada cerita Kak Erna Winarsi Wiyono yang bercerita tentang Zha yang sedih. Zha selalu diejek temannya, karena kacamatanya seperti pinggiran botol minuman.

Foto : Indonesian Store


Nah, bagaimana Kurcaci Pos membedah cerpen yang berjudul Zha Putri Cantik Bermata Empat? Simak, yuk! Semoga bermanfaat, ya.

O, iya, untuk membaca Bedah Naskah Cerita Anak lainnya, SaKurPos bisa mampir ke sini, ya.. klik saja. Salam semangat menulis.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Naskah Asli :

ZHA PUTRI CANTIK BERMATA EMPAT

Oleh : Erna Winarsih Wiyono

Lula Aprianzha nama lengkapku dan kini aku duduk di bangku kelas dua SDN Mentari Pagi, di bilangan Jakarta Timur. Teman-temanku memanggilku dengan sebutan Zha. kegemaranku adalah membaca buku-buku dongeng anak. Aku sangat menikmati lembar demi lembar cerita dari berbagai penjuru dunia, salah satu dongeng yang tak bosan dibacakan oleh bundaku setiap kali sebelum tidur adalah KISAH ITIK YANG BURUK RUPA (The Ugly Duckling), entahlah aku tak pernah bosan terus mendengarkan dongeng itu dan meminta bunda untuk mengulangi cerita itu, hampir setiap malamnya sebelum aku tertidur.

Kisah itik yang buruk rupa (The Ugly Duckling) bertutur tentang seekor itik kecil yang lahir berbeda dari kawanan bebek lainnya dan mendapat perlakuan yang menyakitkan hatinya. Seiring waktu itik kecil itu tumbuh dewasa menjadi seekor angsa yang cantik dan melebihi kawanan bebek yang dulu menghinanya. Hikmah dari dongeng ini bahwa di balik kekurangan selalu ada kelebihan yang kita miliki, kesabaran dalam menjalani hidup yang akan berbuah manis pada perjalanan di masa depan. Lalu apa kaitannya seorang Lula atau Zha dengan cerita legendaris itu?

Memasuki TK B (kelas nol besar) aku mulai berkacamata, waktu itu minusku masih 0,5 baik mata kanan dan kiri. Semua baik-baik saja hingga aku duduk di kelas dua SD, dan hari-hariku berubah ketika Oji, teman sekelasku mulai mengejekku si mata empat karena kacamataku bertambah tebal, lain hari dia pun memanggilku mata fanta (sebab lensa kacamataku seperti pinggiran botol minuman). Oji tak berhenti meledekku dengan sebutan demikian, hingga kawan-kawan kelas lain ikut-ikutan memanggilku dengan julukan yang diberikan Oji padaku.

“Ma faaa!” mata fanta mata fanta mata fanta mata fanta, mata mata empat...Oji tertawa terbahak-bahak diikuti Anto, Rizqi, Sandy, dan Tino. Mereka berlima ini kompak betul menghujaniku dengan julukan yang mereka buat. Rasanya aku tak ingin bersekolah lagi karena yang memanggilku dengan sebutan itu bukan hanya Oji seorang, tetapi kawan-kawan dari kelas lain pun turut menyapaku dengan sebutan Mafa alias mata fanta atau Lula mata empat. Semangatku untuk pergi sekolah tidak sebulat hari-hati sebelumnya, aku tidak mungkin pura-pura sakit agar tidak masuk sekolah, aku tidak mau membohongi bundaku, lagipula ayah dan bunda selalu mengajarkanku untuk berkata dan berbuat secara jujur, dan Zha takut akan dosa.

“Zha, sayang bagaimana aktifitasmu di sekolah tadi?” bunda bertanya padaku seraya memberikan mangkuk putih yang sudah diisinya dengan sup cream jamur. Rintik hujan turun perlahan dan hangatnya sup yang kunikmati setiap sendok demi sendoknya turut menghangatkan badanku setiba di rumah. Aku tak berani menatap wajah bunda, sebab bunda akan bisa membaca ekspresiku bila aku berbohong, karena Zha putri semata wayangnya.

“Zha, bunda tanya kok ndak dijawab sayang?”

“Zha?”

“Ada apa sayang tidak seperti biasanya?”

Zha hanya terdiam tanpa berani menatap wajah bundanya yang terus bertanya dengan seksama.

“Zha harus jawab apa?” (aku berbicara di dalam hatiku)

Petir mulai bersahut-sahutan, hujan pun turun semakin deras. Zha menatap wajah bunda yang sedang fokus melanjutkan kain sulamannya.

“Bunda...”

“Ada apa sayang?”

“Zha ingin pindah sekolah.”

“Loh kenapa?”

“Zha ingin suasana baru bunda.”

Bunda Zha menaruh kain sulamannya yang belum selesai, beranjak dari kursi dan menghampiri Zha, sambil mengelus rambut putri tunggalnya dengan lembut.

“Jika Zha ingin bercerita, katakanlah pada bunda.”

“Iya bunda...”

Lalu mengalirlah cerita dari bibir mungil Zha, bunda Zha mendengarkan dengan penuh kasih, sehingga Zha pada akhirnya bisa menyebutkan alasan yang tepat tentang permintaannya tadi.

Keesokan harinya Zha masuk sekolah dengan wajah ceria, Zha siap jika Oji dan kawan-kawan lainnya mengejek seperti biasanya. Semalam bunda menunjukkan foto-foto bunda semasa dia kecil, dalam foto itu terlihat wajah bunda sangat ceria dan yang kontras adalah gigi bunda yang tak rapih seperti sekarang. Bunda Zha berkisah tentang masa lalunya saat ia seumur Zha hingga bangku SMP, teman-temannya mengoloknya karena susunan giginya yang tidak rapih, namun pada masa itu bunda Zha melawan ejekan itu dengan mencetak prestasi demi prestasi, untuk kebanggaan diri, orang tua, keluarganya, juga guru-guru di sekolahnya, dan orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Jelang masuk bangku SMA, bunda Zha memakai kawat gigi untuk merapihkan giginya, dan itu berlangsung hingga bunda wisuda. Kawat gigi itu menemani bunda Zha dari tahun ke tahun. Bunda Zha berpesan bahwa jika kita ingin menjadi pemenang sejati, maka kalahkan minder dan jangan dengarkan suara-suara sumbang yang akan menghambat jejak langkahmu menuju cita. Bunda menasehatiku seraya berkata padaku sebelum bunda mematikan lampu kamarku, sebab Zha tidak bisa tidur jika lampu terang.

“Bawa buku dongeng ini dalam tas sekolahmu besok Zha, jika kamu mulai lemah, ingat cerita ini bahwa seekor itik yang buruk rupa pada waktunya akan memikat publik, mereka yang mengejek akan terdiam.”

“Indah pada waktunya kan bunda?”

“Betul sayang, semua ada momennya, hidup itu seperti roda, selamat tidur sayang.”

“Selamat tidur bunda.”

“Zha, selamat ya.” pak Hasan wali kelasku menyalamiku.

“Selamat?”

Belum sempat pak Hasan jawab pertanyaanku, lonceng sekolah berbunyi waktu upacara untuk dimulai, ini hari senin dan pelangi nampak di langit pagi ini, tersenyum selepas hujan deras turun tadi malam. Upacara bendera senin ini berlangsung dengan lancar, seusai pidato dari kepala sekolah tiba-tiba namaku dipanggil.

“Lula Aprianzha kelas 2A, harap maju ke depan.”

Aku maju dengan setengah berpikir, “ada apa ya kok Zha dipanggil?”

“Selamat ya Lula, kamu hebat.”

Lalu kepala sekolah melanjutkan pengumuman itu, bahwa Zha juara pertama dalam lomba menggambar tingkat SD yang diselenggarakan dua bulan lalu di kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan setempat.

“Selamat Zha, kamu hebat nak!” satu demi satu guru-guru memberiku ucapan selamat.

“Aku yang bertubuh mungil ini berdiri di depan semua siswa-siswi SD mentari Pagi, tangan kananku memegang piagam, tangan kiriku mmeluk erat piala kemenangan. Sorak sorai dari kawan-kawan yang mengenal Zha riuh terdengar mengawali kabar kejutan hari ini. Ketika Zha masuk kelas, teman-teman pun memberi selamat. Hari ini sepi tak nampak kehadiran Oji, sehingga tak ada yang mengejekku, lalu pak Hasan masuk kelas seraya memberi kabar;

“Anak-anak Oji masuk rumah sakit karena DBD, dia dirawat intensif di rumah sakit.”

Zha dan bunda saling bergandengan tangan berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sore itu sekitar pukul 16.00 Wib.

“Bagaimana kondisi Oji bu?” tanya bunda Zha pada bunda Nirma, ibu Oji.

mereka berdua berbincang dan bunda memberiku tanda untuk menghampiri Oji yang sedang terbaring lemas di ranjang rumah sakit.

“Oji cepat sembuh ya, agar bisa sekolah lagi.”

“Zha makasih, kamu sudah jenguk aku.”

“Sama-sama Oji, kita kan teman sekelas dan sekolah di tempat yang sama.”

“Zha, kamu baik ternyata...maafkan aku yang mengejekmu.”

“Ah, tak apa Oji...kataku sambil tersenyum.”

Dalam perjalanan pulang;

“Bunda bangga pada Zha, sikap bijak memang baik diterapkan sedari dini.”

“Dan...memaafkan itu ikhlas dari hati tidak terpaksa.”

“Iya bunda.”

Matahari dan senja, aku si itik buruk rupa yang sudah menjelma menjadi angsa yang cantik.


Depok, 24 Nopember 2018.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Naskah Koreksian :

ZHA PUTRI CANTIK BERMATA EMPAT  (Judulnya sudah tidak pas, Kak Erna. Judulnya menggunakan POV3, sedangkan openingnya menggunakan POV1)

Oleh : Erna Winarsih Wiyono

Lula Aprianzha nama lengkapku dan kini aku duduk di bangku kelas dua SDN Mentari Pagi, di bilangan Jakarta Timur. Teman-temanku memanggilku dengan sebutan Zha. kegemaranku adalah membaca buku-buku dongeng anak. Aku sangat menikmati lembar demi lembar cerita dari berbagai penjuru dunia, salah satu dongeng yang tak bosan dibacakan oleh bundaku (Bundaku) setiap kali sebelum tidur adalah KISAH ITIK YANG BURUK RUPA (The Ugly Duckling), entahlah aku tak pernah bosan terus mendengarkan dongeng itu dan meminta bunda (karena ini sudah kata sapaan, jadi Bunda huruf awalnya kapital, kecuali bundaya) untuk mengulangi cerita itu, hampir setiap malamnya sebelum aku tertidur.

Kisah itik yang buruk rupa (The Ugly Duckling) bertutur tentang seekor itik kecil yang lahir berbeda dari kawanan bebek lainnya dan mendapat perlakuan yang menyakitkan hatinya. Seiring waktu itik kecil itu tumbuh dewasa menjadi seekor angsa yang cantik dan melebihi kawanan bebek yang dulu menghinanya. Hikmah dari dongeng ini bahwa di balik kekurangan selalu ada kelebihan yang kita miliki, kesabaran dalam menjalani hidup yang akan berbuah manis pada perjalanan di masa depan. Lalu apa kaitannya seorang Lula atau Zha dengan cerita legendaris itu? (Dari opening sampai sini, ini bukan seperti cerpen, Mbak. Seperti seorang anak yang menulis biasa, bercerita tentang dirinya, kegemarannya membaca dongeng dan terinspirasi dengan dongeng Si itik buruk rupa).

Memasuki TK B (kelas nol besar) aku mulai berkacamata, waktu itu minusku masih 0,5 baik mata kanan dan kiri. Semua baik-baik saja hingga aku duduk di kelas dua SD, dan hari-hariku berubah  (usahakan tidak menggunakan kata berubah atau dirubah. Bisa diganti : hari-hariku jadi tidak menyenangkan) ketika Oji, teman sekelasku mulai mengejekku si mata empat karena kacamataku bertambah tebal, lain hari dia pun memanggilku mata fanta (sebab lensa kacamataku seperti pinggiran botol minuman). (Jangan menjelaskan dalam kurung. jadi jelaskan dalam kalimat inti saja. Misalnya : memanggilku mata anta, karena lensa kacamataku seperti pinggiran botol minuman itu) Oji tak berhenti meledekku dengan sebutan demikian, hingga kawan-kawan kelas lain ikut-ikutan memanggilku dengan julukan yang diberikan Oji padaku.

“Ma faaa!” mata fanta mata fanta mata fanta mata fanta, mata mata empat... (Ini tanda petiknya salah. Harusnya : empat..." Oji tertawa terbahak-bahak diikuti Anto, Rizqi, Sandy, dan Tino.

Mereka berlima ini kompak betul menghujaniku dengan julukan yang mereka buat. Rasanya aku tak ingin bersekolah lagi karena yang memanggilku dengan sebutan itu bukan hanya Oji seorang, tetapi kawan-kawan dari kelas lain pun turut menyapaku dengan sebutan Mafa alias mata fanta atau Lula mata empat. Semangatku untuk pergi sekolah tidak sebulat hari-hati sebelumnya, aku (Di sini harusnya titik, lalu kalimat baru : sebelumnya. Aku) tidak mungkin pura-pura sakit agar tidak masuk sekolah, aku tidak mau membohongi bundaku, lagipula ayah dan bunda (Ayah dan Bunda) selalu mengajarkanku untuk berkata dan berbuat secara jujur, dan Zha (ini kecolongan. harus konsisten aku) takut akan dosa. (Usahakan tidak menulis satu kalimat panjang, kak Erna. Walau dipisahkan dengan koma. pecah kalimatnya jadi beberapa kalimat, agar anak-anak tidak ngso-ngosan membacanya.)

“Zha, sayang bagaimana aktifitasmu (aktivitasmu) di sekolah tadi?” bunda bertanya padaku seraya memberikan mangkuk putih yang sudah diisinya dengan sup cream (Bisa pakai kata Indonesia saja : krim) jamur. Rintik hujan turun perlahan dan hangatnya sup yang kunikmati setiap sendok demi sendoknya turut menghangatkan badanku setiba di rumah. Aku tak berani menatap wajah bunda, sebab bunda akan bisa membaca ekspresiku bila aku berbohong, karena Zha putri semata wayangnya. (Kembali penulisan satu kalimat panjang, Mbak)

“Zha, bunda tanya kok ndak dijawab sayang?”
“Zha?” (ini bisa disatukan dalam satu paragraf, karena masih satu ucapan tokoh. Jadi jangan berurutan ucapan tokoh. Selang-seling dengan ucapan tokoh lain.  Misalnya "Zha, Bunda tanya kok ndak dijawab, sayang?"
Aku terdiam saja.
"Zha..!" Bunda memanggilku. "Ada apa, Sayang? Tidak biasanya kamu seperti ini?")


“Ada apa sayang tidak seperti biasanya?”

Zha hanya terdiam tanpa berani menatap wajah bundanya yang terus bertanya dengan seksama.
“Zha harus jawab apa?” (aku berbicara di dalam hatiku) (kalau ucapan dalam hati ditulis seperti ini, kak : Aku harus jawab apa, ya? tanyaku sendiri dalam hati.)

Petir mulai bersahut-sahutan, hujan pun turun semakin deras. Zha menatap wajah bunda yang sedang fokus melanjutkan kain sulamannya.

“Bunda...”

“Ada apa sayang?”

“Zha ingin pindah sekolah.”

“Loh kenapa?”

“Zha ingin suasana baru bunda.

Bunda Zha menaruh kain sulamannya yang belum selesai, beranjak dari kursi dan menghampiri Zha, sambil mengelus rambut putri tunggalnya dengan lembut. (Ini kecolongan karena POV yang pindah-pindah terus, Kak. Jadi karena opening pakai POV1, maka konsisten. jadi kalimat ini harusnya ditulis : sambil mengelus rambutku dengan lembut.)

“Jika Zha ingin bercerita, katakanlah pada bunda.”

“Iya bunda...”

Lalu mengalirlah cerita dari bibir mungil Zha, (bibirku) bunda Zha  (Bunda) mendengarkan dengan penuh kasih, sehingga Zha (Aku) pada akhirnya bisa menyebutkan alasan yang tepat tentang permintaannya tadi.

Keesokan harinya Zha (Aku) masuk sekolah dengan wajah ceria, Zha siap jika Oji dan kawan-kawan lainnya mengejek seperti biasanya. Semalam bunda menunjukkan foto-foto bunda semasa dia kecil, dalam foto itu terlihat wajah bunda sangat ceria dan yang kontras adalah gigi bunda yang tak rapih  (rapi) seperti sekarang. Bunda Zha (Bundaku) berkisah tentang masa lalunya.

Saat ia seumur Zha (Bunda seumurku) hingga bangku SMP, teman-temannya mengoloknya karena susunan giginya yang tidak rapih, namun pada masa itu bunda Zha melawan ejekan itu dengan mencetak prestasi demi prestasi, untuk kebanggaan diri, orang tua, keluarganya, juga guru-guru di sekolahnya, dan orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Jelang masuk bangku SMA, bunda Zha memakai kawat gigi untuk merapihkan  (merapikan) giginya, dan itu berlangsung hingga bunda wisuda. Kawat gigi itu menemani bunda Zha dari tahun ke tahun. Bunda Zha berpesan bahwa jika kita ingin menjadi pemenang sejati, maka kalahkan minder dan jangan dengarkan suara-suara sumbang yang akan menghambat jejak langkahmu menuju cita. Bunda menasehatiku (menasihatiku) seraya berkata padaku sebelum bunda mematikan lampu kamarku, sebab Zha tidak bisa tidur jika lampu terang.

“Bawa buku dongeng ini dalam tas sekolahmu besok Zha, (Sebenarnya tidak perlu membawa buku dongeng ke sekolah. Soalnya ada aturan tidak boleh membawa buku cerita, walau tidak dibaca. Cukp Zha mengingat saja pesan moral dongeng itik buruk rupa) jika kamu mulai lemah, ingat cerita ini bahwa seekor itik yang buruk rupa pada waktunya akan memikat publik, mereka yang mengejek akan terdiam.”

“Indah pada waktunya kan bunda?

“Betul sayang, semua ada momennya, hidup itu seperti roda, selamat tidur sayang.”

“Selamat tidur bunda.”

“Zha, selamat ya.” pak Hasan (Pak Hasan) wali kelasku menyalamiku. (Ini alur ceritanya sangat melompat, Kak Erna. Pembaca jadi kaget. baru tidur malam, kok ada Pak Hasan memberi semangat. Jadi saat ada pindah adegan atau pindah bagian cerita, harus ada kalimat pengantar. Misalnya : Esok harinya saat..... Jadi jelas perpindahannya. atau beri tanda pemisah adegan. Misalnya bintang tiga ***)

“Selamat?”

Belum sempat pak (Pak) Hasan jawab pertanyaanku, lonceng sekolah berbunyi waktu upacara untuk dimulai, ini hari senin dan pelangi nampak (tampak) di langit pagi ini, tersenyum selepas hujan deras turun tadi malam. Upacara bendera senin ini berlangsung dengan lancar, seusai pidato dari kepala sekolah tiba-tiba namaku dipanggil.

“Lula Aprianzha kelas 2A, harap maju ke depan.”

Aku maju dengan setengah berpikir, “ada apa ya kok Zha dipanggil?”

“Selamat ya Lula, kamu hebat.”

Lalu kepala sekolah melanjutkan pengumuman itu, bahwa Zha juara pertama dalam lomba menggambar tingkat SD yang diselenggarakan dua bulan lalu di kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan setempat. (Ini bisa dijelaskan juga daerahnya, Kak).

“Selamat Zha, kamu hebat nak!” (Nak) satu demi satu guru-guru memberiku ucapan selamat.

“Aku yang bertubuh mungil ini berdiri di depan semua siswa-siswi SD mentari Pagi, (Mentari Pagi) tangan kananku memegang piagam, tangan kiriku mmeluk erat piala kemenangan. Sorak sorai dari kawan-kawan yang mengenal Zha riuh terdengar mengawali kabar kejutan hari ini.

Ketika Zha masuk kelas, teman-teman pun memberi selamat. Hari ini sepi tak nampak kehadiran Oji, sehingga tak ada yang mengejekku, lalu pak Hasan masuk kelas seraya memberi kabar;
“Anak-anak Oji masuk rumah sakit karena DBD, dia dirawat intensif di rumah sakit.”

Zha dan bunda saling bergandengan tangan berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sore itu sekitar pukul 16.00 Wib. (Nah, ini melompat lagi adegannya, Kak)

“Bagaimana kondisi Oji bu?” (Oji, Bu?") tanya bunda Zha pada bunda Nirma, ibu Oji.
mereka berdua berbincang dan bunda memberiku tanda untuk menghampiri Oji yang sedang terbaring lemas di ranjang rumah sakit.

“Oji cepat sembuh ya, agar bisa sekolah lagi.”

“Zha makasih, kamu sudah jenguk aku.”

“Sama-sama Oji, kita kan teman sekelas dan sekolah di tempat yang sama.”

“Zha, kamu baik ternyata...maafkan aku yang mengejekmu.”

“Ah, tak apa Oji...kataku sambil tersenyum.”

Dalam perjalanan pulang;
“Bunda bangga pada Zha, sikap bijak memang baik diterapkan sedari dini.” (Bisa ditulis : "Bunda bangga pada Zha! Memaafkan itu perlu," ucapa Bunda saat perjalanan pulang.)

“Dan...memaafkan itu ikhlas dari hati tidak terpaksa.”

“Iya bunda.”

Matahari dan senja, aku si itik buruk rupa yang sudah menjelma menjadi angsa yang cantik.

Depok, 24 Nopember 2018.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan Kurcaci Pos :

Salam, Kak Erna.


Ceritanya sejak dari judul tidak pas, Kak. Ini karena penggunaan POV atau sudut bercerita yang tidak konsisten. Di judul pakai POV3, sedang di opening pakai POV1. Kemudian mulai tidak konsisten antara aku dan Zha.

Jadi bilan menggunakan POV maka sudut pandangnya bisa pakai aku atau saya, Kak Erna. sedangkan untuk POV3, itu pakai nama tokohnya, yaitu Zha. Jadi sudut berceritanya dari kita sebagai penulis.

Penyebutan Zha disesuaikan saja sebagai panggilan. Misalnya pakai POV1, maka didialog, tokoh aku bisa membahasakan diri ZHA. Misalnya : "Ma, nanti sore Zha main ke rumah Mira, ya!" ucapku pada Mama.  >>>> Bukan : "Ma, nanti sore Zha main ke rumah Mira, ya!" ucap Zha pada Mama.

Alur cerita ini  masih dangakl ya, Kak Erna. Terlalu cepat Zha mendapatkan apa yang dia inginkan. Dari Zha diejek, lalu cerita ke Bunda, Bunda memberi nasihat ini itu, esoknya langsung Zha mengalami kejadian yang menyelesaikan konfliknya. Cerita ini panjang, karena openingnya. Seperti bukan cerpen, tapi seorang anak yang menulis biasa dan menceritakan diri dan kegemarannya membaca dongeng. Jadi cerita sebenarnya, saat Zha mengalami konflik.



Cerita ini terlalu banyak nasihat ini itu. Jadi sebaiknya dokus pada konflik Zha, dan biarkan Zha yang menyelesaikan masalahnya sendiri. Bisa dibantu tokoh anak lain. Misalnya temannya. Jadi tidak terlalu meminjam mulut orang dewasa. Fokus, 

Usahakan tidak menulis satu kalimat panjang. Walau dijeda dengan koma, tetap membuat pembaca anak-anak ngos-ngosan. Pecah jadi beberapa kalimat. Jadi kalimatnya efektif dan tidak bertele-tele.

Untuk kata sapaan, huruf awalnya kapital ya, Kak. Misalnya, Bunda, Pak, Kak. Jadi di sini yang paling banyak koreksinya adalah kata Bunda (bukan bunda).

Tidak perlu menjelaskan kalimat dalam kurung. Tulis saja dan jelaskan dalam cerita. Misalnya : Mira pergi ke kebun binatang bersama Paman Bimo (adik bungsu Mama). Langsung saja : Mira pergi ke kebun binatan bersama Paman Bimo, adik bungsu Mama.


Demikian catatan dari Kurcaci Pos, Kak Erna. Salam semangat menulis.

Kurcaci Pos


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Bedah Naskah Cerita Anak - Zha Putri Cantik Bermata Empat"

  1. Wah, seru banget bacanya Daeng,jadi paham yang mana harus diperbaiki..makasih yaa..jadi semangat mau nulis cerita anak lagi.doakaaan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Kak Dedew.
      Ayo, Kak! Terus semangat menulis cerita anak. Apalagi kan cerita Kak Dedew bagus-bagus.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ke Rumah Kurcaci Pos. Tidak diperkenankan menggunakan konten di blog ini, tanpa seizin Kurcaci Pos. Terima kasih.